Sebetulnya ini berita lama, namun di akhir tahun ini harus kita remind kembali, agar tahun 2025 Terkait perdagangan Internasional kita bisa lebih baik lagi.Menteri Koordinator (Menko) Â Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mencatat ranking Logistics Performance Index Indonesia masih kalah jauh dengan negara tetangga antara lain Malaysia, Thailand, hingga Singapura.
"Ranking Logistics Performance Index Indonesia yang menurut Bank Dunia yang pada tahun lalu berada di posisi 61, di bawah Singapura (1), Malaysia (26), Thailand (34), bahkan Filipina (43), dan Vietnam (43)," kata AirlanggaÂ
Dia menuturkan, untuk meningkatkan ranking tersebut oleh karena itu Pemerintah terus berkomitmen untuk meningkatkan kinerja logistik, salah satunya berupa penataan melalui NLE atau Ekosistem Logistik Nasional, yang capaiannya sebesar 97,6% dari total 42 rencana aksi, yang diterapkan di 46 pelabuhan laut dan 6 bandar udara.
(sumber: https://www.liputan6.com/bisnis/read/5687383/menko-airlangga-peringkat-kinerja-logistik-indonesia-masih-kalah-ketimbang-malaysia-hingga-thailand)
" Dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2024 di Hotel Ritz-Carlton, Pacific Place, Jakarta, Kamis (29/2/2024) sesi Transportation Sector, Rachmat Kaimuddin selaku Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi menyebut Logistik Performance Index (LPI).
"Terus terang LPI itu suatu indeks yg dibuat, relatif periodik, mungkin yang harus kita tidak consideration, bahwa pada saat ini kita baru saja selesai dari Covid, jadi harusnya infrastruktur kita lebih mumpuni," ujar Rachmat dalam sesi Transportation Sector."
Apa yang di maksud LPI (Logistic Performance Indexs):
LPI adalah instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi efisiensi dan keberlanjutan sistem logistik suatu negara atau wilayah.
Menurut Bank Dunia , LPI  adalah alat pembanding interaktif yang dibuat untuk membantu negara-negara mengidentifikasi tantangan dan peluang yang mereka hadapi dalam kinerja logistik perdagangan dan apa yang dapat mereka lakukan untuk meningkatkan kinerja mereka.
Logistic Performance Index
LPI Score adalah skor keseluruhan yang diberikan kepada suatu negara berdasarkan performa logistiknya. Skor ini berkisar antara 1 hingga 5, dengan skor 5 sebagai performa terbaik.
Indonesia peringkat 61 dunia dan skor 3.0, berada di posisi menengah dalam LPI di ASEAN, namun masih tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Dibandingkan dengan negara-negara yang memiliki infrastruktur logistik yang lebih maju, Indonesia perlu memperbaiki efisiensi logistik, khususnya dalam aspek infrastruktur, proses bea cukai, serta teknologi logistik untuk meningkatkan daya saing global.
Terkait Ranking LPI yang di rilis Bank Dunia(World Bank), sebagai orang awam, kita masih memaklumi kekalahan ranking ini dari Singapore ( ranking 1)dan Malaysia. (ranking 26), analisa sederhana 2 negara ini mempunyai persiapan yang sangat baik, karena sebagai Negara Pelabuhan Transit, tentunya percepatan dan service untuk logistik tentu sangat baik. Bahkan dengan Thailand dan Vietnam pun kita bisa memahami, karena letak geografisnya sebagai Negara yang di lewati rute pelayaran internasional,
Namun kekalahan ranking Logistic Performance Index dengan Philllipina , ini menjadi tanda tanya???, Phillipina mempunyai letak geografis  sama dengan Indonesia, kok bisa ya? dan kita masih rangking 61 jauh dengan Phillipina.
Tentunya tahun 2025 Indonesia harus kerja lebih keras lagi, tidak hanya mengandalkan penataan NLE atau Ekosistem Logistik Nasional, tetapi yang terpenting adalah penataan Sumber Daya Manusia, agar mempunyai keunggulan perbandingan ( Comparative absolute) dan Keunggulan persaingan ( Competitive Absolute).
Kembali ke LPI, coba akan kita uraikan terkai apasaja kinerja yang di terapkan dalam LPI tersebut.
ada 6 Instruments Indeks Score dalam LPI
1.Customs Score
2.Infrastruktur Score
3.Internasional Shipment Score
4.Logistics Competence and Quality Score
5.Timeliness Score
6.Tracking and Tracing Score
1.Customs Score
Customs Score adalah skor yang diberikan untuk menilai efisiensi dan efektivitas layanan bea cukai serta pengawasan perbatasan suatu negara. Skor ini dinilai dalam skala 1 hingga 5, di mana skor yang lebih tinggi menunjukkan efisiensi dan kinerja yang lebih baik dalam menangani proses bea cukai.
Â
Indonesia, dengan Customs Score sebesar 2.8 dan peringkat 59, tertinggal dari negara-negara ASEAN yang lebih maju seperti Malaysia dan Thailand, yang memiliki sistem bea cukai yang lebih efisien.
Indonesia perlu melakukan perbaikan dalam hal efisiensi dan digitalisasi proses bea cukai untuk meningkatkan daya saing dan mengurangi hambatan logistik. Hal ini akan membantu meningkatkan arus barang yang lebih cepat dan menekan biaya dalam perdagangan internasional.
2.Infrastrukture Score
Infrastructure Score adalah skor yang diberikan untuk menilai kualitas dan efisiensi infrastruktur logistik di suatu negara. Skor ini biasanya diukur dalam skala 1 hingga 5, di mana skor yang lebih tinggi menunjukkan infrastruktur yang lebih baik dan lebih efisien dalam mendukung proses logistik
Berada di peringkat 59 dengan skor 2.9, Indonesia tertinggal dibandingkan beberapa negara ASEAN lainnya, seperti Thailand, Malaysia, dan Filipina.
Infrastruktur di Indonesia masih belum merata, dengan beberapa wilayah yang memiliki infrastruktur transportasi yang terbatas, seperti jalan raya dan pelabuhan.
Ketidakmerataan infrastruktur transportasi membatasi potensi ekspor Indonesia, terutama dari daerah yang jauh dari pusat infrastruktur utama, serta memperlambat upaya Indonesia untuk meningkatkan daya saing ekspornya di pasar global.
3.International Shipment Score
International Shipments Score adalah skor yang diberikan untuk mengukur efisiensi dan efektivitas sistem pengiriman internasional di suatu negara. Skor ini dinilai dalam skala 1 hingga 5, di mana skor yang lebih tinggi menunjukkan sistem pengiriman internasional yang lebih baik dan lebih efisien
Indonesia, dengan International Shipments Score sebesar 3.0 dan peringkat 57, tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand dalam hal efisiensi pengiriman internasional.
Perbaikan dalam pengembangan infrastruktur transportasi dan peningkatan efisiensi dalam proses pengiriman akan sangat penting untuk meningkatkan daya saing Indonesia di pasar internasional
4.Logistics Competence and Quality Score
Logistics Competence and Quality Score adalah skor yang diberikan untuk menilai tingkat kompetensi dan kualitas sistem logistik di suatu negara. Skor ini biasanya diukur dalam skala 1 hingga 5, di mana skor yang lebih tinggi menunjukkan kompetensi dan kualitas logistik yang lebih baik.
Indonesia, dengan Logistics Competence and Quality Score sebesar 2.9 dan peringkat 65, tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand dalam hal kompetensi dan kualitas logistik.
Peningkatan investasi dalam pengembangan infrastruktur dan pelatihan tenaga kerja akan sangat penting untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas logistik Indonesia, sehingga dapat bersaing lebih baik di pasar internasional.
5.Timeliness Score
Timeliness Score adalah skor yang diberikan untuk mengukur ketepatan waktu dalam pengiriman barang ke pelanggan atau negara lain. Skor ini biasanya dinilai dalam skala 1 hingga 5, di mana skor yang lebih tinggi menunjukkan tingkat ketepatan waktu yang lebih baik dalam pengiriman barang.
Indonesia, dengan Timeliness Score sebesar 3.3 dan peringkat 59, tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina dalam hal ketepatan waktu pengiriman barang.
Peningkatan dalam pengelolaan rantai pasokan dan efisiensi sistem transportasi akan sangat penting untuk meningkatkan ketepatan waktu pengiriman di Indonesia, sehingga dapat meningkatkan daya saing di pasar internasional.
6.Tracking and Tracing Score
Tracking and Tracing Score Ini adalah skor yang mengukur kemampuan suatu negara dalam melacak dan menelusuri barang selama proses pengiriman, mulai dari titik keberangkatan hingga tujuan akhir. Skor ini biasanya diukur dalam skala 1 hingga 5, di mana nilai yang lebih tinggi menunjukkan kemampuan pelacakan dan penelusuran yang lebih baik.
Indonesia, dengan Tracking and Tracing Score sebesar 3.0 dan peringkat 65, tertinggal dari negara-negara ASEAN lainnya seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Ketertinggalan ini menunjukkan bahwa sistem pelacakan dan penelusuran logistik di Indonesia perlu ditingkatkan.
Dari perincian Score indeks tersebut, maka Indonesia harus lebih fokus bekerja keras dengan Menejemen yang lebih baik lagi, guna mengejar ketertinggalan dengan Negara Negera  tetangga kita.
Bagaimana menurut Anda?
Tetap Semangat Ayo ekspor
Hindra Soe
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H