Kemarin kasus baku tembak Brigadir J telah diumumkan tersangkanya yaitu Bharada E. Kasus ini terus bergulir dan banyak temuan baru. Selain Bharada E akan dikembangkan juga penyelidikan kepada ajuan Ferdy Sambo lainnya. Apa saja konsekuensi penyelidkan terhadap Brigjen Ferdy Sambo dan Ajudan lainnya.
Kasus yang janggal dimata publik ini menyebabkan beberapa anggota kepolisian di non aktifkan demi menjaga objektivitas dan transparansi dalam pengungkapan kasusnya.
Masyarakat pun terus beropini dan berasumsi karena alasan pertama yang dipublish oleh POLRI dirasakan bertentangan dengan rasionalitas publik.
Hampir semua mata sedang menuju ke perkembangan kasus ini dari mulai masyarakat awam hingga kalangan intelektual. Tentunya jika kasus ini berakhir dengan informasi yang janggal maka hal ini akan berdampak kepada berkurangnya kepercayaan publik terhadap tubuh polri.
Pihak keluarga Brigadir J (Yosua) yang tidak terima karena melihat bukti-bukti luka ditubuh Brigadir Yosua yang memperlihatkan jejak penyiksaan. Hal ini seperti diungkap oleh pengacara keluarga Brigadir Yosia.
Sebuah perkembangan yang signifikan bahwa TNI membantu dalam melakukan autopsi ulang, Artinya pihak keluarga tidak mempercayai hasil autopsi yang pertama. Kabarnya 7 dokter forensik yang terlibat. Masuknya TNI dalam proses autopsi ini diharapkan hasil autopsi yang dilakukan akan objektif karena tidak adanya conflict of interest di tubuh Polri.
Hasil Autopsi ulang kemarin semestinya diumumkan lebih cepat. Semakin lama tindakan autopsi maka resikonya adalah jasad akan semakin rusak. Dan hasilnya bisa segera di informasikan ke publik.
Setidaknya ada 10 konsekuensi dari autopsi ulang mayat Brigadir J.
1. Konsekuesi atas dokter forensik pada autopsi pertama.
Hasil autopsi pertama yang dikeluarkan forensik yang kemudian diumumkan pihak Polres dan Humas Polri ini kemudian diketahui sangat berbeda dengan fakta yang sebenar nya. Sehingga seruan untuk meng investigasi dokter yang melakukan forensik terhadap jenazah brigadir J ini bergema. Jika dari hasil autopsi ke 2 hasilnya berbeda maka ini akan menjadi kasus yang harus dibongkar.
2. atas pengambil/dalang penyembunyian CCTV
Masalah CCTV yang ada di TKP pun menjadi masalah karena setelah diumumkan rusak di sambar petir kemudian ada info yang menyebutkan bahwa CCTV dan decorder oleh orang yang belum masih belum diketahui. CCTV merupakan bukti penting dari kasus ini jika bukti CCTV ini tidak jelas maka pengungkapan kasus ini akan terkendala.
3. atas informasi palsu oleh petinggi polres dan humas
Kapolres Jakarta Selatan yang pertama kali mengumumkan terjadinya peristiwa ini akhirnya dicopot. Ini menandakan kronologi dari peristiwa ini ada masalah dari awal sehingga Humas Kepolisian ini harus dievaluasi besar-besaran.
4. atas kompolnas yang bertindak sebagai jubir polri
Kompolnas dalam hal ini sekretaris Kompolnas yang juga ketua harian kompolnas Benny Mamoto yang memberikan statement di media yang sama dengan statement yang dikeluarkan kepolisian yang mengatakan ini tembak menembak biasa saja. Padahal hal tersebut tidak sesuai dengan fakta jenazah Brigadir J. Statement Benny Mamoto ini pun berbeda 180 derajat dengan statement Ketua Kompolnas Mahfud MD yang menggangap peristiwa ini penuh kejanggalan dari awal.
5. atas pelarangan pembukaan peti mati brigadir J
Video yang viral ke publik saat jenazah Brigadir J tiba di rumah orang tua di Jambi bagaimana ada upaya dari aparat kepolisian yang datang keluarga dihalang halangi untuk membuka peti jenazah Brigadir J,hal tersebut membuat marah keluarga Brigadjir J dan hal tersebut akhirnya membuat Petugas Kepolisian yang mengantar ke sana yaitu Karo Paminal DivPropam Mabes Polri dinonaktifkan.
6. atas peretasan hp brigadir J dan keluarga
Peretasan terhadap perangkat selular yang dimiliki oleh keluarga tentunya ini menambah kuat upaya sistematis dan terencana untuk mengaburkan fakta kasus kematian Brigadir J. Jika ini benar maka tentunya akan semakin memberatkan hukuman terhadap para pelaku.
7. atas forensik kepemilikan senjata
Hingga kini yang mengherankan adalah mengenai identitas kepemilikan pistol Glok 17 yang digunakan untuk membunuh Brigadir J tidak pernah diungkap ke publik padahal untuk mengetahui identitas pemilik senjata api ini sangat mudah. Hal ini menampakkan adanya tarik menarik di internal kepolisian antara yang ingin transparan dengan yang ingin menyembunyikan. Tentunya menimbulkan asumsi publik yang merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan dan polri terkesan melindungi seseorang. Dan ini akan sangat memperburuk citra institusi kepolisian.
8. atas luka jeratan, sayatan jahitan dan sajam
Luka jeratan pun menjadi sebuah pertanyaan, jika itu benar-benar luka bekas jeratan maka tentunya akan berseberangan dengan semua keterangan awal dari kepolisian. Dan konsekuensinya jelas bahwa ada oknum-oknum yang hendak melindungi pihak yang semestinya dijadikan tersangka.
9. konsekuensi reputasi kepolisian dan masa depan POLRI Indonesia
Citra kepolisian benar-benar dipertaruhkan dalam penanganan kasus ini. Jika ternyata ada upaya oknum-oknum kepolisian yang berupaya menutupi kasus ini dari kebenaran dan
10. atas leadership KAPOLRI
Tidak hanya citra kepolisian sebagai institusi yang dipertaruhkan tapi konsekuensi dari terkuaknya bukti-bukti hasil temuan dari proses autopsi ulang ini akan sangat mempengaruhi penilaian masyarakat terhadap leadership dari Kapolri.
Sejauh ini ada tiga wartawan asing yang sudah meliput kasus ini, dan kasus ini pun akan terbaca oleh para tamu G20 yang akan diselenggarakan di Bali. Dan kita sudah mengetahui bahwa negara kita pernah dilaporkan dalam Country Report on Human Right Practices yang dimuat di web kedutaan Amerika Serikat. Jika tidak segera diselesaikan maka hal ini akan melegitimasi bagi negara lain bahwa di Indonesia kerap terjadi kasus pelanggaran HAM.
END
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI