Mohon tunggu...
Herry Mardianto
Herry Mardianto Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Suka berpetualang di dunia penulisan

Selanjutnya

Tutup

Ramadan Pilihan

Syawalan Rica-rica, Rumah, dan Kenthongan

2 Mei 2023   11:13 Diperbarui: 2 Mei 2023   11:28 2447
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ngobrol ngalor-ngidul/Foto: Hermard

Benda lainnya yang tak bisa dilepaskan dari ingatannya berupa kenthongan besar  di belakang rumah. Suatu ketika ia didatangi seorang tetangga.

"Menapa panjengan mboten badhe njago lurah? Neruskaken ingkang Bapa?-Apakah Mas Dedet tidak ingin menjago lurah, meneruskan jejak Ayahanda?" tanya tetangganya.

Dedet lalu memberi penjelasan kalau tidak sedikit pun terbersit keinginannya menjadi lurah. Sang tetangga pun lalu menyampaikan niatnya untuk meminjam kenthongan.

"Silakan dibawa saja, saya tidak memerlukannya lagi."

Ternyata tetangganya menjagokan diri menjadi lurah dan memenangkan pemilihan. Anehnya, ia percaya semua itu terjadi karena mendapatkan pinjaman kenthongan.

Ngobrol ngalor-ngidul/Foto: Hermard
Ngobrol ngalor-ngidul/Foto: Hermard
"Wah, tetangga sampeyan memang benar-benar menghayati sebagai orang Jawa tulen. Ia paham mengenai arti sebuah kenthongan," Krishna menimpali cerita Dedet.

Krishna Mihardja lalu bercerita jika zaman dulu, di lingkungan masyarakat Jawa, tidak sembarang orang bisa memiliki kenthongan berukuran besar. Apalagi terbuat dari kayu nangka atau glugu. Hanya lurah dan panewu yang diperbolehkan memiliki kenthongan kayu. 

Beberapa langgar diperbolehkan memiki kenthongan kayu, tetapi ukurannya kebih kecil dari yang berada di panewon maupun kelurahan. Sedangkan masyarakat umum (wong cilik) hanya diperkenankan mimiliki kenthongan bambu.

Keberadaan kenthongan menjadi penting karena merupakan media komunikasi dalam masyarakat Jawa tempo dulu. Bunyi kenthongan memberikan informasi kepada masyarakat terhadap berbagai peristiwa: kematian, pencurian, kebakaran, banjir, dan lain sebagainya. Semua tergantung pada cara memukulnya. Ada rumus  memukul kenthongan 1-1-1, 4-4-4, 1-7-1-7-1-7 dan lainnya.

"Benar sekali. Bahkan di desa saya dulu, mendengar irama suara kenthongan kematian, orang sudah bisa tahu yang meninggal anak-anak, remaja, atau orang tua. Irama dara muluk dilanjutkan dengan beberapa kali pukulan, maknanya sudah berbeda," jelas Bey Saptomo.

Jadi, dalam pemilihan, termasuk pemilihan lurah, kemenangan dapat tercapai jika terbangun komunikasi dengan baik. Zaman sekarang, dalam konteks menuju tahun 2024, komunikasi tak cukup dengan kenthongan, melainkan dengan membangun koalisi antarpartai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ramadan Selengkapnya
Lihat Ramadan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun