Mohon tunggu...
Hermansyah Siregar
Hermansyah Siregar Mohon Tunggu... Administrasi - ASN

Menguak fakta, menyuguh inspirasi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Cita-cita, Apa Masih Perlu?

23 Juni 2018   16:08 Diperbarui: 23 Juni 2018   16:13 1232
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dokumentasi Pribadi

Di dalam kehidupan sosial, kita selalu memberikan ucapan selamat dan mengadakan selamatan ketika lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan. Budaya ini bisa dimaklumi karena utk mendapatkan ijazah dan kesempatan kerja bukanlah hal yg mudah dan menjadi cita-cita seseorang sejak masa kecil. Cita-cita yg digantung di langit sudah tercapai dan selesailah tujuan hidup dan kini saatnya menikmati hidup.

Ada hal yg menarik di negara Jerman terkait dengan kelulusan ini. Tidak ada sama sekali acara wisuda yg diselenggarakan oleh kampus-kampus perguruan tinggi. Ketika lulus, mahasiswa cukup diberikan ucapan selamat dgn jabatan tangan dari dosen penguji. Ijazah selanjutnya dapat diambil di ruang sekretariat jurusan atau bisa juga diminta untuk dikirim ke rumah. So simpel....

Selamatan diadakan secara pribadi diantara teman dekat itupun bukanlah sebagai suatu keharusan. Saat mendapatkan pekerjaan tidak ada selamatan sama sekali karena itu merupakan konsekuensi dari diperolehnya ijazah sbg tanda suatu keahlian. Mungkin juga karena di Jerman utk mendapatkan suatu pekerjaan bukanlah merupakan  sesuatu hal yg sulit.

Profesi kita pandang sebagai suatu pekerjaan dgn kemampuan teknis tertentu yg diperoleh dari pendidikan tertentu. Sebagaimana tercantum di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yg mendefenisikan bahwa profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketrampilan, kejuruan, dan sebagainya) tertentu.

Aku cukup kaget dengan pendefenisian profesi tsb di KBBI. Penyusun kamus sangat jujur menggambarkan bagaimana orang Indonesia memandang suatu profesi atau memang demikianlah sang penyusun kamus memandang arti profesi itu sendiri yg tumbuh di alam bawah sadarnya berdasarkan kenyataan yg melingkupi lingkungan sekitarnya.

Dahulu dijaman perjuangan kemerdekaan Indonesia, bung Karno sengaja menggelorakan semangat anak bangsa dengan slogan gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit. 

Credo ini ditancapkan di dalam benak pemuda masa itu karena sbg bangsa yg sangat lama dijajah, kita sdh kehilangan dignity dan kepercayaan diri. Terkadang tidak mampu lagi menatap mata para komprador asing dan membusungkan dada menghadapi tantangan dunia.

Jadilah pemimpi besar agar kelak menjadi pemimpin besar mungkin begitu yg diidamkan bung Karno terhadap anak revolusinya. Karena untuk membangun negara besar yg baru merdeka dibutuhkan banyak profesional di berbagai sektor kehidupan bangsa, mengambil alih profesi yg ditinggalkan kompeni dan mengurus aset yg dinasionalisasi untuk pembangunan nasional.

Cuma kita harus ingat yg dibutuhkan bung Karno adalah profesional bukan pekerja terdidik yg text book thinking. Bukan para penerabas yg menaiki anak tangga tertinggi utk mencapai cita-citanya lalu berpuas dengan jabatan yg disandang untuk selanjutnya mendapatkan materi dan kedudukan sosial lebih.

Profesi yg dibutuhkan bung Karno adalah komunitas moral (moral community) yang memiliki cita-cita dan nilai bersama yaitu utk membantu pembangunan nasional sebagaimana Paul F. Comenisch dan K. Bertens mendefinisikan profesi.

Profesi adalah suatu kumpulan atau set pekerjaan yang membangun suatu set norma yang sangat khusus yang berasal dari perannya yang khusus di masyarakat (Schein, E.H., 1962).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun