Yayuk Pecel Wanita Paruh Baya, Menjaja Mengayuh Sepedanya
Wanita paruh baya itu berjualan dari terang hari hingga hari gelap, menjajakan dagangannya dengan cara berkeliling menggunakan sepeda second miliknya.
Yang dibeli di pasar rumput, sebagai sarana berjualan dan agar dapat berpindah tempat menjaring pembeli. Menelusuri tepi jalan serta masuk ke dalam gang. Guna menjemput rezeki mengais rupiah.
Ada pun makanan yang dijajakannya yakni, pecel sayuran yang terdiri dari rajangan kangkung, kol, kacang panjang, daun pepaya yang terlebih dahulu dikukus/direbus.
Lantas diberi saus bumbu kacang, tak berbeda jauh dengan gado-gado. Hanya saja gado-gado lebih banyak varian sayur-mayurnya. Serta ditambah pipilan jagung, labu, nangka, tempe dan lain sebagainya.
Serta tersedia juga tahu dan tempe bacem, gorengan bakwan, mie keriting, sate telor puyuh/sate kikil, kerupuk mie. Rempeyek kacang/ikan asin dan rengginang.
Cukup beragam menu yang dijajakan, terlebih dijajakan dengan teramat murah untuk pecel satu pincuknya hanya 5000 rupiah saja. Namun sayangnya pecel tak dapat bertahan lama dan lekas basi.
Hari-harinya penghasilan yayuk tak tentu, terkadang dagangannya tandas tak bersisa, laris manis. Namun adakalanya menyisa amat banyak, yang mana jika tak habis maka makanan akan dibuang.
Yayuk tak memiliki penanda kapan ia akan mengakhiri jam berjualannya, jika dirasa badannya telah letih maka saatnyalah ia berhenti menjajakan dagangan miliknya.
Laku tak laku maka ia akan pulang ke rumah dengan mengayuh sepeda miliknya, namun tidak untuk beristirahat. Â Melainkan kembali menyiangi sayur-mayur sebagai bahan utama pecel.
Yang akan dijajakan keesokan harinya serta menggoreng kacang tanah, sebagai bumbu kacang/saus siramnya. Tentunya teramat melelahkan bukan, mengingat usia yayuk yang telah menua.
Namun yayuk rupanya telah terbiasa dengan kondisi tersebut, yakni kesibukan membuat penganan di dapur dengan tenaga tuanya.
Dari berjualan Pecel inilah yang menjadi pundi-pundi rupiah bagi yayuk, dan yayuk berjualan pecel telah amat cukup lama yakni separuh dari usia dipakai guna berjualan.
Yang mana uang tersebut yayuk kumpulkan dengan telaten, untuk di kirim ke kampung halaman. Guna kepentingan membayar tenaga buruh yang menggarap sawah miliknya.
Membayar sewa traktor, membeli pupuk yang harganya tak murah. Serta untuk kebutuhan harian keluarga yayuk di desa. Per-dua minggu yayuk terkadang dapat mengantungi sekitar kurang lebih 2 juta rupiah. Â
Dan uang tersebut telah memiliki posko-nya masing-masing, kendati demikian yayuk tetap semangat berjualan. Mengayuh sepedanya seraya berteriak.
Pecel.... Pecel.... Pecel....
Jakarta, 22/9/2023
Salam Kompasiana
Hera Veronica Suherman
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H