Cerbung ini sudah tayang sejak tahun 2016 yang lalu. Maksud hati merampungkan cerbung ini menjadi sebuah novel tetapi masih belum menjadi kenyataan. Episode perdananya bisa pembaca klik disini.
Penulis memiliki tekad untuk merampungkan cerbung tersebut walaupun dengan segala keterbatasan situasi dan kondisi terkini. Selama ini tekad itu hanya cukup menggunakan filosofi pelan-pelan yang penting sampai ke tempat tujuan.Â
Karena media seperti Kompasiana ini adalah tempat yang sangat tepat bagi para penulis yang ingin mewujudkan mimpinya sehingga bisa menghasilkan sebuah karya yang kelak bisa menjadi buku. Â
Untuk menjadi sebuah novel dibutuhkan minimal jumlah 40 ribu kata harus tercapai. Inilah tantangannya bagi penulis, apakah mampu mencapai target tersebut.Â
Kurang dari jumlah 40 ribu kata maka karya fiksi tersebut disebut sebagai Novela ( 17.500 - 40 ribu kata) atau Novelet ( 7.500 kata - 17.500 kata) dan Cerpen ( Jumlah maksimal 7500 kata).Â
Baiklah para Pembaca yang Budiman, berikut adalah sekilas sebuah sinopsis dari cerbung Pijar Api Krakatau.Â
Sinopsis ini bisa menggambarkan cerita selengkapnya dari cerbung tersebut yang bisa dijadikan ukuran dari isi cerita serta pesan apa yang ingin disampaikan kepada para Pembaca.Â
Silakan simak terus Kompasiana karena di sanalah episode demi episode cerbung Pijar Api Krakatau akan tayang.Â
Sebuah sinopsis :Â
Pijar Api Krakatau adalah fiksi sejarah yang terjadi daerah Banten pada kurun waktu antara tahun 1880 sampai dengan 1883.
Saat itu bagi masyarakat Banten adalah momen-momen gejolak penindasan dari Kolonial Belanda yang ingin tetap menjajah Tanah Banten.
Rakyat Banten yang sudah sangat menderita dengan kekejaman Kolonial Belanda, mereka juga tengah dilanda musim kemarau sangat panjang.
Sudah hampir dua tahun ini tidak turun hujan. Kekeringan terjadi dimana-mana.
Beberapa desa mengalami keprihatinan ketika tanah pertanian mereka mengalami gagal panen dan mengancam penduduk kelaparan.
Selain itu di desa-desa tersebut wabah penyakit sampar menyerang ternak kerbau atau kambing mati sia-sia.
Mereka juga tanpa sadar selalu terancam aktivitas Gunung Krakatau yang semakin meningkat. Hampir setiap saat Krakatau selalu menyemburkan asap hitam ke udara dengan pijar-pijar lidah apinya menjilat langit di atas Selat Sunda.
Bayu Gandana adalah sosok muda asli dari Tanah Banten yang harus mengalami semua peristiwa gejolak penjajajahn Belanda dan musibah alam paling dahsyat dalam sejarah.
Pemuda ini berusaha selalu berdiri di atas kedua kakinya untuk menjaga kehormatan Tanah Banten dari kejahatan penjajah Belanda.Â
Kepada Pembaca Kompasiana selamat menikmati cerbung Pijar Api Krakatau.Â
Salam literasi @hensa17.Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI