Mohon tunggu...
Hendra
Hendra Mohon Tunggu... Penulis - Clear thinking equals clear writing

Lahir dan besar di Jakarta. Topik tulisan: mengatur keuangan pribadi, kehidupan di Australia dan filosofi hidup sederhana. Saat ini bermukim di Sydney.

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Empat Alasan Besar untuk Selektif Menggunakan Sosial Media

4 Juni 2016   21:21 Diperbarui: 4 Juni 2016   21:32 243
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Ledakan sosmed melahirkan budaya “Saya Pty Ltd”. Saya makan apa, lagi apa, dimana, sama siapa, suka apa, pacar siapa, baju apa, mood apa, baru belanja apa, dapat hadiah apa, bentuk bodi apa, semua bisa dishare langsung. Tampaknya kemudahan berbagi membuat sebagian pengguna sosmed melucuti hal-hal pribadi untuk dikonsumsi publik.

Tentu saja kebanyakan orang hanya memposting event membanggakan saja, seperti kelahiran anak, prestasi sekolah atau kerja, piagam perhargaan, foto liburan, tubuh hasil gym. Kalau Anda entah kenapa merasa resah setelah melihat postingan tersebut di Facebook, Anda tidak sendirian. Menurut studi dari University of Houston dan Palo Alto University bersama University of Cologne, tampaknya ada asosiasi antara penggunaan Facebook dengan gejala depresi ringan (sumber: theatlantic.com).

Pada tahun 1950, psikolog Leon Festinger berpendapat bahwa orang cenderung menilai kemajuan hidup dan perasaan berharga dengan membandingkan diri dengan orang lain. Karena orang cenderung hanya memposting hal-hal yang membanggakan, realitas hidup orang lain seolah-olah jauh lebih baik dan tanpa sadar kita bertanya pada diri sendiri “mengapa hidup saya tidak seindah mereka”. Padahal hidup Anda mungkin baik-baik saja dan realitas hidup orang lain tidak seluruhnya seindah layar Facebook.

 

Tulisan ini tidak bermaksud mengajak pembaca untuk anti-sosmed, tapi lebih selektif dan cermat menggunakan sosmed dalam meningkatkan kualitas riil hubungan sosial dan professional. Saya lebih menyoroti sikap latah seolah-olah semua trend baru teknologi pasti bermanfaat dan wajib diadopsi tanpa memperhitungkan kebutuhan pribadi.

Kita lebih cerdas dari itu. Jangan mau membayar mahal hanya karena takut dipanggil gaptek.

“An open Facebook page is simply a psychiatric dry erase board that screams “Look at me. I am insecure. I need your reaction to what I am doing, but you’re not cool enough to be my friend. Therefore, I will just pray you see this because the approval of God is not all I need.” – Shannon L. Alder

Hendra Makgawinata

Sydney, 04/06/16

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun