"Dua hari lagi bu. Aku menunggu saat yang istimewa."
Tepat dua hari. Saat ini hari valentine. Terbangun dengan suara ribut di depan rumahnya. Tiba-tiba di rumah Mawar banyak orang yang datang. Hilir mudik dan kursi-kursi dijejer di sebelah luar. Ada apa? Bima memegang coklatnya. Pita merahnya nampak mencolok. Bima perlahan mendatangi rumah Mawar. Sepertinya ini bukan saat yang tepat . Semua orang tampak sibuk seperti mengurus sesuatu.
"Ada apa ya? Mas yang rumahnya di depan kan?" Bima mengangguk.
"Mau ketemu Mawar. Sudah beberapa hari ini tak melihat dirinya." Gadis itu menatap Bima sekilas.
"Mas , temanya Mawar. Yang aku tahu mbak Mawar tak punya teman pria,"
"Oh, belum menjadi teman. Tapi akan jadi teman," tukasnya sambil menceritakan sedikit bagaimana dia mengenal Mawar. Gadsi itu melihat kotak coklat di tangan Bima.
"Ini untuk mbak Mawar? " Bima mengangguk
"Kalau saja Mawar tahu, pasti dia bahagia. Hanya dia telah pergi."
"Maksudnya?" tanya Bima
"Tadi malam Mawar sudah tak kuat menahan rasa sakitnya karena kanker yang dideritanya." Seluruh tubuh Bima mengendur, lemas. Betapa semua rindunya, semua harapan akan cintanya dalam sekejap hilang begitu saja. Tak terasa rasa pedihnya membuat air maatnya turun. Gadis itu menyuruh Bima masuk ke dalam rumah. Di sana berbaring Mawar. Wajahnya pucat dan sedikit membiru di bagian pipinya. Pantas saja Mawar selalu tampak pucat .
"Selamat tinggal. Cintaku kau bawa pergi jauh sebelum aku bisa mengungkapkan perasaan aku," bisik Bima. Perlahan Bima meningalkan cintanya. Pupus sudah asa yang ada di hati. Hilang sudah cinta yang baru saja berkemabng . Digantikan dengan kesedihan yang mendalam.