“Di ujung desa. Bentar lagi juga datang,” ucapku, sekenanya.
Kami berdua benar-benar menjadi dua pasang manusia bisu malam ini. Dia diam, begitupun aku. Aku bukan tipe orang yang suka untuk membuka topik. Aku menunggu lawan bicaraku bicara. Selebihnya aku tak bernah berinisiatif. Apalagi dengan makhluk yang bernama lelaki. Kecuali dengan orang-orang yang sudah kukenal dekat, seperti Aziz.
Tetapi aku juga akan cepat akrab dengan orang jika orang itu aktif mengajakku ngobrol. Hal ini kualami bersama Bari. Bari tipe orang yang pandai bercerita, suka mengobrol. Dia menceritakan apa saja. Film, musik, tentang kegemarannya membaca novel, juga menulis. Dia bercerita bahwa dia baru 2 kali pacaran dan selalu ditinggalkan karena si cewek memilih cowok lain. Bari lebih terbuka. Aku bahkan sudah bisa bercanda dengannya.
Tidak dengan Landung….
Seperti malam ini. Kami menjadi patung di depan TV. Ocehan si pemain sinetron menjadi backsound keheningan. Dan keadaan ini terus berlanjut sampai si Aziz dan Bari datang membawa makanan.
# # #
“Kamui berdua sama Landung ya Sum,” kata Aziz pagi ini. “Aku sama Bari.”
Aziz seperti membaca pikiranku. Bahwa aku tertarik, sangat tertarik, dengan Landung. Pagi ini, tanpa rencana atau diskusi apa-apa dia menyuruhku satu motor denga Landung.
Pagi ini kami berempat akan pergi ke fakultas untuk mendaftar OSPEK fakultas teknik. Jarak antara rumah dan kampus sekitar 5 km. Jika memilih jalan kaki, itu hanya pilihan bodoh untuk kami. Akhirnya ayah mengalah untuk tidak mengendarai sepeda motor ke kantornya. Ayah bekerja sebagai guru di SMA Negeri di kotamadya. Setiap pagi beliau mengendarai motor bebeknya untuk pergi ke sana. Tapi pagi ini, beliau mengalah.
“Kenapa mesti aku?” tanyaku. “Kenapa gag Bari, atau kamu Ziz.” Aku pura-pura menolak agar tidak terlihat terlalu bersemangat. Padahal dalam hati, aku bersemangat sekali. Berboncengan dengan Landung? Berdua? Mimpi apa aku.
“Kan kamu yang suka dia? Kalo kamu suka Bari ya pasti aku menyuruhmu berdua ama Bari.” Aziz menggodaku lagi.