"Kami sudah puluhan generasi di sini. Rukun dan selalu bermusyawarah itu sudah ciri khas di sini. Makam Jambon itu sudah sedari dulu jadi makam pangeran-pangeran dari selir raja Mataram."
Mbah San kemudian menjelaskan berbagai ritual dan pertunjukan seni dan budaya yang sering diadakan di sekitaran Makam Jambon. "Yang ziarah ke makam pun banyak, sampai nginep-nginep,"
"Untuk cari ilmu atau bagaimana, Mbah?" Saya ingin memastikan apakah pengaruh kejawen cukup kuat di kampung ini.
"Ya kalau orang Jawa berziarah tujuannyan bisa macam-macam, tho" Jawab Mbah San terkekeh, memperlihatkan beberapa giginya yang ompong.
"Buat cari ilmu begitu ada?"
"Buat cari nomor togel juga ada. Sekedar ziarah untuk menghormati leluhurnya  juga ada. Apa yang ga ada?" Kekeh Mbah San makin nyaring.
Belum lagi diamplifikasi oleh wartawan sebagai berita terkini seolah ini adalah pertentangan warga mayoritas muslim yang menginjak-injak warga non muslim yang minoritas. Semua demi mengejar hits, jumlah share, reach, dan jumlah conversation yang tercipta.
Tak pernah kita coba datang, berdiskusi, dan memahami mereka secara langsung. Yang ada hanyalah prejudice. Tanpa memberi mereka kesempatan membela diri dan menjelaskan.
"Kebenaran itu akan tetap menjadi kebenaran. Buat saya, pada akhirnya semua orang akan mengerti. Tidak pun mereka mengerti, mereka tidak akan pernah mengganggu hidup kita. Warga di sini pun tenang saja, tidak pernah seheboh yang diberitakan di media," Demikian terang Mbah San.
Malam semakin larut. Saya harus mengejar sampai di Klaten sebelum pukul 12 malam karena berjanji kopdar dengans seorang teman yang tinggal di lereng Gunung Merapi.