Sementara Allegri? Dia adalah seorang sufi. Di kepalanya terdapat banyak paradoksitas, yang barangkali gagasan memainkan sepakbola menghibur, hanyalah remah-remah kecil yang tak terlihat. Baginya, ada yang lebih penting dari itu semua, yakni kemenangan.
Menang adalah cara Allegri berbahasa lewat sepak bola. Perkara ia mengaktualisasikan cara berbahasanya tadi dengan jalan yang bagaimana, itu tidak penting.
Menang 1-0 tetaplah menang. Menang lewat penalti, juga tetap dihitung menang. Apapun asalkan menang, artinya Allegri telah berhasil menyampaikan bahasa sepakbolanya.
Sederhana, namun sebenarnya rumit. Karenanya, kita tak mungkin bisa melakukan simplifikasi isi kepala Allegri, dengan mem-bypass kesimpulan yang jauh dari jalan ilmu pengetahuan. Terlebih dengan dugaan-dugaan subjektif, atau hanya dengan sentimen suka dan tidak.Â
Tentu sah-sah saja jika kita menilai keputusan taktikal Allegri, terlalu pragmatis, konservatif, bahkan jauh dari tuntutan sepakbola modern yang serba menyerang. Faktanya, sepakbola yang digagas dan disiapkan oleh Allegri, memang bukanlah sebuah suguhan hiburan.
Allegri tampak lebih menyiapkan anak asuhnya untuk selalu punya napas panjang. Ia menyiapkan timnya untuk berlari mengejar kemenangan demi kemenangan. Bukan cuma sebatas mengais-ngais tepuk tangan, dari pertunjukan ke pertunjukan. Allegri bukan pelatih sirkus.
Di tengah arus budaya populer sepakbola modern, kita menjadi saksi betapa sepakbola di bawah kendali Allegri, tampak terlihat kontras menopang dirinya sendiri.
Sebuah perjudian besar dengan tetap mengusung sepakbola bertahan, di tengah-tengah kepungan corak sepakbola menyerang yang seragam dan itu-itu lagi. Tetapi Allegri tak peduli.
Sepakbola yang diusung Allegri memang identik dengan permainan bertahan. Terlihat membosankan, namun sesungguhnya begitu sistematis dan terukur. Sepakbola macam ini tentu tak cocok buat mereka yang malas berpikir, terlebih jantungan.
Sepakbola Allegri sesungguhnya telah bermetamorfosa menjadi sebuah skema yang amat dinamis. Ia tak cuma mengakomodir nilai-nilai modernitas yang tengah digandrungi di dalamnya, semisal umpan-umpan pendek dan cepat.
Tetapi gagasan-gagasan baik di masa lalu, semisal corak catenaccio, tetap dipertahankan. Tidak percaya? Coba tengok Juventus di musim 2017-2018.