Namun, ada hal yang di luar itu, tidak semua yang kita inginkan harus selalu dituruti. Belajar menerima dan berbesar hati. Hidup tidak memulu tentang semua orang harus menuruti apa yang menjadi keinginan seseorang.
Kisah Juru Kunci Makam, memberikan kita sedikit gambaran dari sekian banyak peristiwa yang terjadi dan dialami anak-anak bangsa ini. Yaitu keterbatasan ekonomi. Kebanyakan mereka yang dalam kondisi ini, banyaknya memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan.
Apa jadinya jika banyak anak-anak generasi penerus bangsa ini tidak berpendidikan?
Apa jadinya bangsa ini, jika bibit dan calon penerus berhenti belajar, lalu memutuskan untuk mencari uang. Entah itu dengan menjadi buruh kasar, mengamen, atau pekerjaan lainnya.
Dunia terus berkembang, teknologi pun ikut berlari kencang, bangsa-bangsa yang lamba akan tertinggal dari kemajuan.
Bangsa yang menguasai teknologi dan ilmu pengetahuanlah yang akan menjadi menguasai dunia.
Tentunya kita, sebagai bangsa Indonesia dengan semangat leluhur yang telah memperjuangkan bangsa ini dengan semangat pantang menyerah, mengorbankan sampai titik darah penghabisan, tidak mau tentunya bansa ini kembali dijajah oleh bangsa luar.
Solusi yang diberikan penulis terhadap tulisan ini adalah, adanya tokoh penengah yaitu Sofi dan Nadia. Sahabat perempuan yang juga satu kelompok yang tidak sependapat dengan Donni, mereka berbesar hati dan menyelidiki ada apa dengan Unggul.
Apa yang sebernarnya di alami oleh Unggul.
Sofi dan Nadia adalah anak yang hebat, meski dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan, mereka tidak tinggi hati, mereka mau membantu.
Setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya, dan menceritakan kepada ibu guru, simpati datang kepada Unggul. Paling tidak ia bisa masih bisa merasakan mengenyam pendidikan.