Situasi itu sempat membuat Manchester City jauh dari papan atas. Hingga pergantian tahun, bahkan sampai pertengahan Januari 2021 lalu, timnya Guardiola sama sekali tidak pernah memimpin klasemen.
Malah, Tottenham, Leicester, Liverpool, dan juga Manchester United yang bergantian memimpin klasemen. City tidak pernah ikut dalam hiruk pikuk pemberitaan tim papan atas.
Hingga di pekan ke-13, upaya Guardiola membangun tim dengan beberapa wajah baru mulai terlihat. Meski melangkah pelan, tapi langkah City sangat pasti. Mereka tidak lagi tersandung.
Sejak pekan ke-13 hingga 10 pekan kemudian, Manchester City tidak pernah lagi kehilangan poin. Mereka selalu menang. Chelsea dilibas 1-3 di kandangnya. Aston Vila dikalahkan 2-0. Hingga, kemenangan hebat 4-1 atas Liverpool d Anfield pada akhir pekan kemarin (7/2).
Meraih 30 poin dalam 10 pekan membuat City meroket. Mereka menguasai puncak klasemen. Terlebih, tim-tim pesaing seperti Manchester United dan Liverpool, di luar dugaan beberapa kali kehilangan poin (imbang maupun kalah).
Kini, City memimpin klasemen dengan 50 poin dari 22 pertandingan. Manchester United ada di posisi 2 dengan 45 poin. Liverpool di pringkat 3 dengan 43 poin. Keduanya sudah memainkan 23 pertandngan. Artinya, City berpeluang semakin unggul jauh.
Bersama Guardiola, City bakal sulit dikejar
Memang, kompetisi masih panjang. Masih ada 15 pertandingan. Namun, semua tahu, Guardiola sukses membawa perubahan sejak masuk ke Manchester City pada musim 2016/17 lalu.
Dia mampu mengubah Manchester City yang "tidak punya sejarah", menjadi tim paling konsisten dalam empat musim terakhir. Dua kali juara dalam empat tahun.
Guardiola membawa kultur pemenang. Dia tahu caranya melakoni kompetisi yang panjang. City bisa konsisten menang. Itu yang membuat mereka bisa meraih rekor 100 poin di Liga Inggris saat juara di musim 2017/18.
Termasuk di musim ini, saat mereka ada di puncak klasemen, akan sulit bagi tim lain untuk mengejar. Apalagi, mereka semakin pede dan unggul jarak 5-8 poin dengan para pesaing.