Jagat media sosial khususnya di kalangan pekerja kreatif baru-baru ini dihebohkan oleh kasus Brandoville Studio, sebuah studio animasi yang bermarkas di Jakarta Pusat.Â
Kasus ini mencuat setelah cuitan seorang yang memberikan beragam tangkapan layar dari para mantan pegawai studio tersebut.Â
Dalam postingannya, terdapat beragam bukti kekerasan baik secara verbal maupun fisik dari Cherry Lai, istri dari CEO Brandoville Studios, Ken Lai.Â
Banyak warganet kemudian segera merespon kasus tersebut dan saat ini tengah menjadi perbincangan hangat.Â
Asosiasi-asosiasi yang berkaitan dengan industri kreatif seperti Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI), Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI), Asosiasi Game Indonesia (AGI) pun turut mengeluarkan kecaman dan secara terbuka menyatakan pengawalan akan kasus kekerasan yang berlangsung itu.Â
Polisi Resor Jakarta Pusat pun diketahui segera menanggapi dengan membentuk tim khusus untuk menginvestigasi kasus tersebut.
Diketahui, perusahaan studio tersebut saat ini sudah tutup, namun para pemimpinnya mendirikan studio baru bernama Lailai Studio yang berdiri di Jakarta namun berkantor pusat di Hong Kong.Â
Brandoville Studios sendiri awalnya termasuk studio yang cukup prestisius dan tergolong dalam rating AAA (premium) karena membantu pengembangan game-game besar seperti Final Fantasy VII Remake, The Last of Us, dan Warcraft 3 Reforged.
Kasus-kasus yang melibatkan nama Cherry Lai sebagai pelaku tersebut begitu mengerikan.Â
Dalam cuitan di atas, terdapat cerita-cerita seperti seorang karyawan yang hamil tua mengalami pendarahan karena terpaksa bekerja hingga jam 3 pagi, pemaksaan hukuman terhadap karyawan yang diminta untuk menampar dirinya sendiri sebanyak 100 kali.
Lalu ada pemaksaan bekerja pada hari libur tanpa adanya upah tambahan, pemaksaan terhadap mantan karyawan yang telah dikeluarkan untuk datang di tengah malam, ketidaan pembayaran lembur, pemerasan, penjambakan terhadap karyawan, hingga penggunaan uang karyawan semena-mena untuk kepentingan pribadi. Bahkan Cherry Lai menyatakan sendiri bahwa karyawan yang bekerja dengannya akan menjadi miliknya, yang mana itu ditanggapi karyawannya sebagai perbudakan.
Ketika mengetahui kasus tersebut, saya  terngiang pengalaman kerja saya dahulu yang juga pernah menjadi karyawan bagi suatu perusahaan milik orang dari Cina daratan yang mana saya mendapat beberapa perlakukan keras, meski tidak sampai seekstrim perlakuan dari Cherry Lai.Â
Meskipun begitu, pengalaman kerja saya tersebut sudah cukup membawa saya untuk pemulihan pada psikiater selama setahun lebih.Â
Apa yang saya temui dari kedua kasus baik saya maupun Cherry Lai ini membawa saya pada sebuah gambaran akan betapa dalam beberapa studi kasus di industri.
Terdapat karakteristik para pemilik modal usaha yang bisa sangat semena-mena pada karyawan hanya karena alasan mereka sudah membayar karyawan tersebut dalam gaji bulanan. Ada masalah etika serius mengenai perlakuan terhadap karyawan dan hak-haknya.
This is abhorrent and should be dealt with in a court, Cherry Lai of Brandoville Studios abuse of her employees:https://t.co/7qudhxMY1E
Brandoville, formerly part of Lemon Sky, had a big scandal back in 2021 about the horrible working conditions
(Abuse & self harm)— Bisher Dokkmak (@Bisher_d790) September 9, 2024
Warren Buffet memang pernah mengatakan "Jika kamu tidak menemukan cara bagaimana membuat uang bekerja untukmu saat kamu tidur, maka kamu akan selamanya bekerja untuk uang."Â
Meskipun begitu, "membuat uang bekerja untukmu" tidak pernah berarti memperlakukan karyawan atau mitra dengan sewenang-wenang agar mereka segera menghasilkan uang untuk kita apabila kita menjadi seorang entrepreneur.Â
Terdapat pijakan berupa Hukum Ketenagakerjaan, Hak Asasi Manusia, hingga prosedur etis yang harus seorang pemilik usaha ketahui dan jalankan.Â
Kasus Brandoville Studios ini akhirnya membuka babak baru dunia industri yang begitu sering luput dari perhatian: etika memperlakukan karyawan.Â
Di era yang mana ketidakpastian semakin menjadi-jadi, seorang pemilik usaha entah besar atau kecil semestinya menyadari bahwa karyawan bukanlah budak pesuruh, "kloningan pemikiran" dari diri kita, melainkan mitra yang begitu berharga.Â
Jika turnover ratio dari karyawan begitu tinggi dimana itu disebabkan perlakuan kita sebagai pemilik usaha sendiri, dan itu terus dibiarkan tanpa ada penanganan kebijakan manajemen yang tepat, maka bukan tidak mungkin usaha kita tinggal menunggu waktunya untuk diberondong hujatan netizen.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H