"Aku aktor sejagat berani denganku?"
"Enggak lah. Ente do re me fa sol. Gimana siih?"
"Hahaha yah yah hura!"
"Hamba bisa apa hanya parodi?"
"Duhhh. Segitunya deh."
"Lah iyalah hai."
Tapi tetap saja putar-putar cuek bebek cuek abis. Bisa juga dibilang; bodok amat. Aji mumpung aji sakti aji lipat menggurita berlipat ganda. Meski demikian tetap berbeda dengan ganda campuran. Bisa juga kalau mau disebut demikian. Bergantung sudut pandang acuan tor-nya, ibarat kata begitu.
"Mirip kita menonton kita hihihi."
"Jangan cekikikan."
"Kurang berisik ya hihihi."
"Hahaha kurang gizi."
Mengebiri domba beda dengan ngebiri kucing meski tolok ukur keilmuannya sama; kebiri. Nah itu dia bedanya pedekate kata kucing dengan domba. Mungkin salah satu penyebab epidemi flu sembelit bersin-bersin ogah sembuh laiknya musim berganti layar adegan berlapis-lapis gonta-ganti, ceritanya sama hihihi old fashion.
"Something when it goes wrong."
"Merongrong kantong wkwkwk."
Hihihi kelakuan siasat ehem seru-seru enggak sih. Kalau nyebelin pun kebal antibiotik akibat keselek nyamuk. Mungkin akibat puyer sakit kepala enggak manjur kebal berkelit terkait-kait. Terus gimana dong. Mau gitu aja asal goblek. Diprotes cuek enggak diprotes ngeselin. Keduanya serentak turun angkot. "Oh!"
***
Jakarta Kompasiana, Juni 20, 2024.
Salam NKRI Pancasila. Banyak kebaikan setiap hari.