Dalam konteks atlet, gaji biasanya diberikan oleh klub, federasi cabang olahraga, atau perusahaan yang membantu pengembangan olahraga (contoh: Djarum) kepada atlet.
Akhir-akhir sedang ramai tentang PSG yang mendapatkan deretan pemain terbaik seperti Messi, Donnaruma, Ramos, dan Wijnaldum secara gratis.
Memang, langkah tersebut bisa dibilang hemat karena pihak klub tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli "nilai jual" sang pemain. Tapi perlu diingat juga bahwa "gratisnya mereka itu sama sekali tidak murah".
Betul, gaji keempat pemain tersebut sama sekali tidak murah. Kisarannya, PSG bisa mengeluarkan 90 juta euro/tahun untuk gaji mereka saja.Â
Maka dari itu, sama halnya seperti melamar pekerjaan, atlet juga perlu tahu kondisi keuangan tempat bekerjanya sebelum tanda tangan kontrak. Â
2. SponsorÂ
Sponsor menjadi sumber pendapatan yang menurut saya paling menjamin hingga pensiun tapi meraihnya tidak mudah.Â
Bicara mendapatkan sponsor bukan hanya tergantung pada performa atlet tapi juga popularitasnya yang bisa meningkatkan nilai jual si pemberi sponsor (baca: brand).
Popularitas ini bisa dibilang abu-abu dan sulit ditentukan, apakah berdasarkan followers di Instagram atau fisiknya atau sensasinya.
Selain itu, sponsor juga bisa menjadi "sensitif" bila si atlet membuat kegaduhan atau kesalahan yang membuat citra brand menurun di mata konsumen.
Tapi kalau si atlet bisa konsisten performa terbaiknya dan bisa menghasilkan nilai jual yang tinggi, tidak tanggung-tanggung brand akan memberikan kontrak seumur hidup dan nilai kontraknya tinggi.
Contohnya seperti yang dinikmati oleh Lionel Messi dan David Beckham yang dikontrak seumur hidup oleh Adidas dan Nike kepada LeBron James dan Cristiano Ronaldo.