Mohon tunggu...
Ibn Ghifarie
Ibn Ghifarie Mohon Tunggu... Freelancer - Kandangwesi

Ayah dari 4 anak (Fathia, Faraz, Faqih dan Fariza) yang berasal dari Bungbulang Garut.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Salam, Salim dan Senyum

13 Juni 2024   15:10 Diperbarui: 13 Juni 2024   15:19 139
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber, hasil tangkap layar dari ig @husein_hadar

"Orangtua bertanya-tanya untuk apa saya kuliah di jurusan seperti itu. Mereka khawatir nantinya tidak akan ada pekerjaan yang cocok bagi saya. Butuh perjuangan untuk meyakinkan mereka dan alhamdulilah saya berhasil," ucapnya. 

Di kampus di kawasan Cibiru inilah, karena ajakan teman, Sifa berkenalan dengan kegiatan-kegiatan lintasiman yang tidak biasa. Dia bergabung dalam sekelompok anak muda yang mengunjungi gereja. Lain waktu, dia datang ke vihara. Bagi Sifa, semua itu merupakan pengalaman pertama kali seumur hidup.

Puncaknya, pada pertengahan 2016, Sifa mengikuti kemah pemuda lintas iman yang diselenggarakan Jakatarub (Jaringan Kerja Sama Antar Umat Beragama) di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Itulah pengalaman tiga hari yang membukakan mata

"Kemah itu memberikan saya perspektif baru dalam memandang keberagaman. Dengan berdialog langsung dengan teman-teman beda agama, bahkan ada yang tidak beragama, saya bisa sedikit demi sedikit memahami mereka. Bukan lagi prasangka yang didahulukan," ujarnya.

Pulang dari kemah, Sifa dan beberapa temannya mendirikan Salim (Sahabat Lintas Iman). Sebagian besar anggotanya merupakan mahasiswa di kampus UIN SGD Bandung dan para anak muda lain yang tinggal di kawasan timur Bandung. Beragam kegiatan yang pernah dilakukan Salim di antaranya kunjungan ke gereja dan pondok pesantren. Ada juga acara bedah buku dan pasar murah.

Salim juga tercatat pernah mengadakan kunjungan dan diskusi dengan para pemeluk Ahmadiyah di kawasan Cikutra, Kota Bandung. Ahmadiyah merupakan salah satu kelompok minoritas yang rentan menjadi korban persekusi. Awal 2019 ini, misalnya, puluhan orang membubarkan acara mereka. Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada 2011 bahkan mengeluarkan Peraturan Gubernur yang melarang aktivitas penyebaran ajaran.

"Dengan mendengarkan langsung kisah mereka, kami memiliki pemahaman yang cukup untuk bersikap adil. Saya meyakini dialog merupakan kunci toleransi," tegasnya. (https://pikiran-rakyat.com)

Budaya S3

Nyatanya dalam menjalankan kehidupan sehari-hari kita perlu membiasakan budaya S3 (salam, salim dan senyum). Kepala MTsN 1 Pati Ali Musyafak membuktikan bahwa program S3 sangat bermanfaat dan dapat meningkatan kasih sayang guru kepada siswa.

Salam, mengucapkan salam, sapa. Setiap anak yang bertemu dengan Bapak, Ibu guru dan pegawai wajib menyapa dengan mengucapkan salam islami (Assalamu'alaikum) minimal, terutama di saat anak-anak masuk pintu gerbang Madrasah.

Hikmah yang dapat diambil dengan mengucapkan salam adalah menjalankan perintah Allah dan Rasulullah. Nabi memerintah kepada kaum muslim untuk menebarkan salam, tebarkanlah salam. Dengan salam kita saling mendoakan dalam keselamatan. Orang hidup yang dicari adalah keselamatan dan kebahagiaan. Dengan kita saling mendoakan Allah pasti mengabulkan. Melalui salam diharapkan tidak ada dendam diantara kita, karena salam diucapkan pasti dengan hati yang tulus.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun