Ada banyak cara yang bisa dilakukan kita untuk menjaga kedaulatan negara. Salah satunya dengan menyebarluaskan pesan-pesan perjuangan.
Dulu, di masa-masa perjuangan melawan penjajahan, kita mengirimkan pesan-pesan perjuangan dengan menuliskan "MERDEKA ATAOE MATI" pada dinding gerbong kereta api. Dengan menjadikan kereta api sebagai media, kita menggetoktularkan pesan-pesan perjuangan dari satu daerah ke daerah lainnya.
"... Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah.
Yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih
Maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapa pun juga ..." seru Bung Tomo.
Seruan Bung Tomo itu langsung didengar oleh arek-arek Suroboyo secara real time sekaligus juga mem-viral dengan cepat. Sontak, pada hari itu juga, 10 November 1945, segenap rakyat Surabaya bergerak.
Bung Tomo tidak memilih menyampaikannya dengan berpidato di alun-alun kota ala weworo zaman kerajaan di Jawa tempo dulu. Bung Tomo pun tidak memilih menempeli poster di setiap sudut kota. Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran di era Presiden Soekarno ini memilih radio sebagai media penyampai pesan. Inilah salah satu bukti kercerdasan bangsa kita.
Bung Tomo dengan pemancar radio yang digunakannya, rakyat Surabaya dengan pesawat radionya, dan rakyat surabaya dengan pesan dari mulut ke mulutnya tak ubahnya kita dengan akun media sosial yang kita miliki.
Lewat akun media sosial, kita bisa mengirim, menerima, sekaligus juga menyebarluaskan pesan. Jadi, kita bisa menjadi Bung Tomo sekaligus juga rakyat Surabaya yang oleh Bung Tomo disebut "Banteng".
Keefektifan dan keefisiensian penggunaan medsos sebagai media pengirim sekaligus penyebar pesan ini oleh hasil riset yang dipublikasikan We Are Social pada Februari 2019.
Data lain yang menarik adalah rerata waktu penggunaan medsos. Menurut perusahaan yang berbasis di London ini, setiap harinya rerata pengguna medsos di Indonesia menghabiskan waktu 3 jam, 26 menit.