Sacchi membuat Milan jadi tim yang terus mendapat perhatian usai dia mengirim sebanyak dua trofi Liga Champions Eropa secara beruntun ke lemari piala. Ketika itu, pemain yang jadi pujaan adalah trio Belanda, beserta dengan sejumlah bintang seperti kuartet lini belakang yang diisi Franco Baresi, Alessandro Costacurta, Mauro Tassotti, dan Paolo Maldini.
Dalam dua laga final, Milan menghajar Steaua Bucuresti dengan skor 4-0 pada tahun 1989, dan melumat Benfica dengan skor tipis 1-0 di tahun berikutnya.
Era keemasan Milan bersama Silvio Berlusconi kembali terulang ketika Fabio Capello berhasil meneruskan kejayaan klub di era Sacchi. Memanfaatkan warisan Sacchi, Don Fabio mampu meraih tiga scudetto secara beruntun. Hebatnya lagi, scudetto pertama dari Capello diraih AC Milan dengan status tak terkalahkan sepanjang musim.
Masih bersama nama Baresi dan Paolo Maldini, Milan jadi kian kokoh ketika nama Roberto Donadoni dan Dejan Savicevic masuk ke dalam skuad. Hasilnya, Milan menciptakan sebuah kemenangan bersejarah ketika FC Barcelona asuhan Johan Cruyff di partai final Liga Champions Eropa tahun 1994 berhasil ditumpas. Tak tanggung-tanggung, klub favorit juara pria Belanda dihajar dengan skor telak 4-0.
Berlusconi yang rutin menonton pertandingan Milan dari tribun kerap terlihat lemparkan senyum merekah ke hadapan para penggemar. Dia terus menikmati hasil dari kehebatannya dalam mengelola sebuah tim sepakbola. Tak sampai pada pembelian bakat-bakat berkualitas, bisnis sepakbola Berlusconi berlanjut ke investasi besar lainnya seperti pembangunan pusat latihan terbaik dan modern, Milanello, sampai pada pendirian Milan Lab yang sangat canggih.Â
Perlu diketahui bahwa Milan Lab berhasil menjadikan pemain yang sudah berumur di Milan terus berikan performa maksimal di atas lapangan. Itu bisa dilihat dari prestasi gemilang yang kembali di dapat, seperti dua trofi Liga Champions Eropa yang diangkat pada tahun 2003 dan 2007.
Di tahun 2007, mereka menempatkan nama Paolo Maldini yang usianya telah menginjak 39 tahun, Cafu yang berusia 37 tahun, Nelson Dida 33 tahun, Serginho 36 tahun, Inzaghi 33 tahun, sampai Seedorf, Ambrosini, hingga Oddo yang telah menginjak kepala tiga.
Apa yang diterapkan Berlusconi di Milan kemudian menjadi standar bagi klub-klub Eropa lainnya.
Di tahun 2004 tepat setelah berjaya di Eropa, Milan menempati urutan pertama sebagai klub dengan nilai tertinggi di dunia menurut Majalah Forbes. Mereka mengalahkan raksasa seperti Real Madrid sampai Manchester United.Â
Namun layaknya roda kehidupan yang terus berputar, Milan yang masih digawangi Silvio Berlusconi harus rela mengurangi kemeriahan sebagai sang juara.
Era Kejatuhan Berlusconi Usai Dapatkan Scudetto Terakhir