Jadi, Yesa diiadopsi sejak 2021 pada saat dia berusia lima tahun. Bukannya diperlakukan dengan baik, Yesa  malah  mengalami kekerasan fisik sejak dia diadopsi.Â
Yang paling dominan melakukan kekerasan adalah ibu angkatnya. Parahnya, para karyawan yang bekerja di toko miliki orang tua angkatnya juga melakukan kekerasan.Â
Â
Bukan hanya ibu angkatnya saja yang menyiksa, melainkan juga para karyawan yang bekerja di toko orang tua angkatnya. Adapun Bapak angkatnya Yesa malah melakukan pembiaran.Â
Masih dari sumber yang sama, Â detikcom (4/12/23), Â Yesa saat itu sedang dilatih berenang oleh ibu angkatnya. Kesal karena susah diajari, Si Ibu angkat membenamkam kepala Yesa berulang-ulang hingga mengeluarkan darah. Yesa lantas dibawa ke rumah sakit, namun meninggal dalam perjalanan.Â
Kejadian yang dialami Tifa dan Yesa menambah deretan panjang kasus kekerasan terhadap anak yang seolah tak ada habisnya. Â UU perlindungan anak seolah tak mampu memberikan efek jera bagi para pelaku. Kampanye-kampanye perlindungan anak seolah tak sanggup juga meluluhkan hati orang-orang dewasa.
Bumi seakan tidak ada aman lagi untuk anak-anak kecil seperti Tifa dan Yesa.  Siapa yang  bertanggung jawab membuat dunia anak-anak menjadi  semenakutkan ini?Â
Katadata.co.id (29/12/23) mencatat, angka kasus kekerasan terhadap anak mencapai 3.547 kasus. Hal ini dilaporkan oleh Komnas Perlindungan Anak. Â Lia Latifah, Pjs Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, menyebutkan bahwa pada 2023 kekerasan terhadap anak mengalami peningkatan sebanyak 30%. Â
Para pelaku kekerasan kebanyakan orang-orang terdekat, seperti orang tua atau kerabat seperti yang dilakukan oleh seorang ayah  di Jagakarsa yang membunuh empat orang anaknya
 Miris sekali. Anak-anak itu  harus meregang nyawa di tangan orang dewasa yang seharusnya melindungi mereka
Lalu apa yang harus dilakukan?