Percayalah, saya ini tergolong udik untuk urusan medsos. Saya yakin, buanyakkk di luaran sana yang diam-diam mungkin memilih jalan hidup seperti saya.
Bukan karena kami generasi tua yang emang telat medsos, namun memang dengan sesengaja-sengajanya memilih untuk menghindari, lebih tepatnya tidak memprioritaskan medsos dalam keseharian.
Anda yang awal-awal pernah terkoneksi dengan saya melalui fesbuk, Anda mungkin masih inget jika saya pakai akun milik istri. Ya, saya nebeng akun istri untuk berkoneksi dengan rekan-rekan.
Waktu awal fesbuk meledak/booming, aplikasi ini banyak dibahas di banyak media. Baik online maupun offline. Offline?
Ya! Saat fesbuk mulai mendaki popularitasnya, kala itu media cetak masih berjaya. Media daring (dalam jaring/online) serasa masih menjadi pelengkap saja.
Orang berfesbuk, atau gaulnya: fesbukan, masih dominan pakai komputer. Android masih belom terdengar kiprahnya kala itu. Mungkin sudah ada, tapi masih entah di mana.
Ponsel kebanggan orang kala itu adalah Blackberry. Selebihnya ada yang pegang iPhone mungkin. Sisanya ya masih ponsel tulalit.
Itulah kenapa fesbuk meledak di jagad komputer, bukan ponsel.
Anda yang segenerasi dengan saya pasti ingat masa-masa itu.
***
Saat lihat istri fesbukan, dan recehnya isi fesbuk yang saya nilai kala itu, saya sampai mengolok-olok istri, "Makanan apaan sih ini fesbuk?"