Keberhasilan pikiran masyarakat Yunani kuno, tidak selaras dengan penerapan bidang filsafat di tanah air. Karena, kita terbelengguh dengan bidang Teologi.
Teologi telah membuat kita, terkadang mabuk, menyebar kebencian, diskriminasi dan menjerumuskan diri kita pada kefanatikan, kesucian hingga orang yang berbeda dengan kita, bukanlah saudara setanah air.
Maka tepatlah, apa yang dikatakan oleh praktisi sekaligus filsuf Rocky Gerung, yakni; menjadi manusia/pribadi dungu/bodoh.
Padalah, sejatinya orang yang berteologi seharusnya menjadi pribadi yang menjunjung tinggi nilai-nilai universal.
Karena elaborasi dari pikiran filsafat dan teologi akan memampukan seseorang untuk bertindak dan berpikir secara bijaksana, penuh kasih, pengertian dan selalu mengutamakan kehidupan harmonis, ketimbang ego komunitas dan doktrin tertentu.
Deretan permasalahan pikiran di atas, perlahan tapi pasti melahirkan ruang kosong dan bermuara pada minimnya diskursus ilmu filsafat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Padahal, Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di Indonesia, sangat menjunjung tinggi bidang filsafat.
Oleh karena itu, kita pun patut mengajungi jempol sekaligus kembali menghidupkan pemikiran-pemikiran bebas, kritis dan bertanggung jawab dari para founding fathers bangsa ini. Terutama Ir. Soekarno, Moh.Hatta dkk. Karena dari mereka lah, bangsa kita disegani dan ditakuti oleh bangsa lain.
Pertanyaan, sampai kapan kita akan terus terperangkap dalam doktrin-doktrin yang pada dasarnya mengarahkan kita pada ketidakhormanisan antar sesama dalam kehidupan setiap hari?
Untuk meminimalisir pemikiran-pemikiran disintegrasi sebagai warga negara Indonesia yang dilindungi oleh Kelima Sila Pancasila, ada pun beberapa pendekatan yang ditawarkan oleh penulis, di antaranya sebagai berikut:
1. Memahami Komunikasi Antarbudaya