Jika persoalan kebangsaan dinilai dari latar belakang seseorang, aktifitas hari-harinya, pergaulanya, bisa dikonfirmasi terkait dengan pemahamannya.
Aktifitas hari-harinya sudah berkaitan dengan isi pikirannya. Jika hanya dalam bentuk tes semua itu bisa dimanipulasi -- meskipun banyak juga yang tidak lolos tes.
Ini suatu langkah yang cenderung cari gampang. Menilai pemahaman kebangsaan seseorang hanya dalam bentuk tes dan wawancara sementara kesemuanya bisa dikondisikan.
Wawasan kebangsaan yang dimaksud sebenarnya terkait dengan sikapnya. Dari pemahaman yang menggerakan tubuh. Mestinya yang dinilai tidak hanya dari tes, namun lebih jelas lagi adalah cara dia bermasyarakat dan keterlibatannya di ormas.
Atau justru ini satu langkah untuk menutupi langkah yang lain, katakanlah telah diniatkan untuk menggeser orang lain yang dicover dengan TWK. Entahlah...
           Â
Antara Isi TWK, KPK, dan Kebangsaan
Banyak soal dalam TKW yang tidak berkaitan. Baik dengan wawasan kebangsaan maupun dengan KPK.
Misalnya soal "semua orang Cina sama saja". Selain tidak jelas, tidak juga berkaitan dengan kebangsaan. Terus kenapa harus Cina? Bukan Belanda? Prancis, atau Inggris, yang pernah terlibat dalam penjajahan Indonesia?
Ada juga pertanyaan soal kawin, soal pacaran, yang jelas tidak berhubungan dengan kinerja KPK dan kebangsaan -- selebihnya Anda baca di sini.
Beberapa pertanyaan di dalam TWK pun cenderung diskriminatif, yang jelas bertentangan dengan ideologi dan UUD yang menghargai setiap hak individu di tanah Indonesia.