Menstigma yang berbeda dengan cara pandang mereka menggunakan diksi-diksi intoleran, sama saja dengan intoleran itu sendiri.
Tak bisa kita mengukur pakaian yang akan dikenakan orang lain, dengan ukuran vital tubuh kita yang jelas terlihat berbeda.
Satu hal penting yang harus diingat sebagai disclaimer, Â saya menulis artikel ini bukan berarti saya membenci atau tidak suka dengan keberadaan LGBTQ.
Saya sangat menghormati pilihan hidup mereka atau siapapun. Toh orientasi seksual itu ranah pribadi, tak ada kapabilitas saya untuk menyatakan suka atau tidak, you owned your own
Hanya saja, jika LGBTQ ingin dihormati keberadaannya, ya mereka juga harus menghormati orang lain yang tidak ingin dan tidak berkenan keluarga atau lingkungannya menjadi sasaran kampanye LGBTQ.
Dengan kampanye-kampanye seperti Itu, bukan ingin diakui hak-haknya tetapi ingin menambah jumlah populasi penganut LGBTQ.
Apalagi hampir semua agama pada prinsipnya tak menghalalkan LGBTQ, makanya kampanye-kampanye mereka kerap berbenturan dengan kepercayaan agama yang dianut di sebuah wilayah.
Kampanye persamaan hak LGBTQ Â memang kini tengah panas-panasnya dipromosikan oleh sejumlah negara barat.
Tak hanya menggunakan event-event olahraga seperti yang ingin mereka lakukan di  Piala Dunia Qatar  sebagai sarana kampanyenya.Â
Isu persamaan hak LGBTQ juga dikampanyekan melalui berbagai kegiatan sosial dan budaya terutama film dan narasi-narasi yang membangun stigma bahwa siapapun yang tak mendukung LGBTQ adalah mereka yang berpikiran sempit, kurang berperikemanusian, dan intoleran.
Melalui film-film, terutama produksi Hollywood dan negara barat lainnya mereka gencar menyusupinya dengan isu LGBTQ.