Mohon tunggu...
Fahmi Aziz
Fahmi Aziz Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

Penikmat kata

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Pertama dan Terakhir, Sepasang Sepatu untuk Ayah

30 Desember 2020   06:27 Diperbarui: 30 Desember 2020   06:44 302
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dan kisah-kisah ini tidak pernah ayahku ceritakan. Tapi perasaannya selalu tersalurkan kepada kami sekeluarga tanpa harus diucapkan. “Actions speaks more than words”. Mungkin begitulah gayanya, dan itu menular kepada kami sekeluarga. Dan kami juga terbiasa dengan sikapnya.

Suatu ketika, aku membelikannya sepatu. Lantaran sepatunya yang lama jebol. Ketimbang disol, tapi nanti jebol lagi, mending sekalian beli baru. Apalagi, perjalanan ayah saya PP Surabaya-Nganjuk. Juga kebetulan kala itu, saya kuliah sembari bekerja sampingan, jadi ada beberapa uang di tabungan. 

Sesaat saya berikan sepatu baru itu ketika ayahku akan berangkat kerja. Dia sedikit terkejut dan termenung sejenak. Tidak banyak komentar yang keluar dari bibirnya, hanya ucapan terima kasih. Saya tak banyak berpikir. Tapi berhari-hari setelah itu, saya lihat, sepatu yang saya beli tidak kunjung ia pakai. Apa ayah saya tidak suka?

Beberapa kali saya tanya. Tapi dia selalu menjawab, kalau itu nanti buat cadangan, kalau-kalau sepatunya yang lama tidak bisa dipakai sama sekali. Seperti itu selalu jawabannya. Sampai-sampai, saya lupa masalah itu.

Hingga ayahku meninggal. Banyak pelayat berdatangan ke rumah, termasuk teman-teman sekantornya. Mereka mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya ayah saya. Alhamdulillah, almarhum dikenal sebagai atasan yang teladan bagi juniornya. 

Di antara rekan kantornya, ada salah satu teman dekat ayah bernama “Mas Aris”. Ia mengaku terkejut ketika ayah saya meninggal. Kemudian, dia menceritakan berbagai kisah bersama almarhum. Salah satunya, ketika ayah saya pernah datang ke kantor, Mas Aris melihat sesuatu yang tidak biasa. Ayah saya tiba di kantor dengan mata berkaca-kaca. 

“Ada apa, Pak Gofar?” ia berinisiatif bertanya.

“Barusan anak saya, ngasih sepatu baru ke saya,” jawabnya jujur, dengan tangis haru dan bangga. 

Seketika itu, saya ingin mengumpat diri saya. Saya tidak tahu kalau hadiah itu menjadi hadiah pertama dan terakhir yang saya berikan kepada ayah. Sepasang sepatu yang harganya tidak lebih dari Rp 300 ribu. 

Aku ingin langsung memprotes kepada ayahku.

Begitu sepatu itu, berkesannya bagimu. Bagimu, yang tidak memedulikan tubuhmu, pulang-pergi Surabaya-Nganjuk. Bagimu, yang tidak memusingkan penampilanmu. Hadiah itu terlalu sederhana, Ayah!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun