Mohon tunggu...
Fayakhun Andriadi
Fayakhun Andriadi Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Fayakhun Andriadi, Ketua Partai Golkar Prov DKI Jakarta. Anggota Komisi I DPR RI 2009 - 2014 dan 2014-2019. Lahir 24 Agustus 1972. Sarjana Elektro Universitas Diponegoro, Magister Komputer Universitas Indonesia (UI) dan menyelesaikan program Doktor Ilmu Politik UI (2014) dengan disertasi Demokrasi di Era Digital. Pemilik website www.fayakhun.com. Twitter: @fayakhun

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Kurikulum Payah, Mentalitas Parah

4 April 2011   23:57 Diperbarui: 26 Juni 2015   07:07 183
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Jika ingin merusak suatu bangsa cukup dengan merusak cara berpikirnya.

Kalau ingin menghancurkan sebuah bangsa cukup dengan merusak kurikulum pendidikannya.

Beberapa hari belakangan, pikiran saya terganggu oleh satu kenyataan yang berkaitan dengan mentalitas dan cara berpikir anak bangsa: menipu tak merasa bersalah, memanipulasi tak ada malu, nyontek dari SD sampai kuliah merasa biasa, kaya dari uang korupsi malah bangga, budaya disiplin begitu langkanya, dan sebagainya.

Pertanyaannya, kenapa mentalitas dan cara berpikir seperti ini bisa begitu mewabah dan menimpa hampir semua anak bangsa?

Bangsa kita memiliki klaim dan jargon yang sangat agung dalam hal moralitas. Dalam tataran formal, misanya, kita memiliki Pancasila sebagai sumber nilai moral yang disepakati menjadi landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Diyakini, nilai-nilai agung yang terkandung dalam lima sila Pancasila mencakup semua aspek kehidupan yang apabila diresapi dan dipraktekkan akan mengantarkan bangsa ini kepada kondisi 'sejahtera aman sentosa di bawah ridho Tuhan' (baldatun thoyibatun wa rabbun ghafur).

Dalam tataran kehidupan sosial, kita juga memiliki klaim sebagai bangsa 'religius', bangsa lemah lembut, bangsa santun, bangsa dengan tipo seliro yang tinggi, bangsa gotong royong, bangsa yang penuh dengan nilai-nilai kekeluargaan, dan segala macam.

Lalu, dimana klaim keagungan moral tersebut? Kenapa ia seperti tak berbekas dalam realitas? Sebuah pertanyaan yang merisaukan, dan kadang memunculkan logika nakal dalam pikiran saya, bahwa klaim atau jargon tersebut sebenarnya hanyalah sebuah kondisi ideal yang diidamkan oleh nenek moyang kita, sebuah impian, sebuah cita-cita, bukan terjemahan dari kondisi yang sebenarnya. Ada kalimat 'mudah-mudahan' yang dihilangkan dalam klaim tersebut. Jadi, jika Indonesia dibilang sebagai 'bangsa yang religius', maka kenyataan sebenarnya adalah 'bangsa yang mudah-mudahan religius'; bangsa yang (mudah-mudahan) santun, bangsa yang (mudah-mudahan) gotong royong, dan sebagainya. Hanya saja, logika nakal seperti ini tentu sangat keliru adanya. Kesalahan bukan terletak pada klaim atau jargon tersebut. Tetapi ada sebuah sebab yang telah merusak dan menjauhkan bangsa ini dari nilai-nilai agung yang menjadi kekayaan budaya kita sejak dulu.

Hanya saja, sebab itu apa?

Berawal dari Kurikulum

Saya menyadari, penyebabnya tentu tidaklah tunggal. Hanya saja, faktor fundamental yang sangat tidak bisa kita nafikan adalah berkaitan dengan kurikulum pendidikan.

Kebetulan para keponakan saya mengeyam pendidikan di sekolah negeri. Setelah saya amati secara lebih dalam, kurikulum pendidikannya sangat tidak mendukung bagi penciptaan cara berpikir, mentalitas, ataupun keterampilan hidup yang kondusif bagi dirinya maupun bagi masa depan bangsa ini. Kurikulum dari SD sampai SMA selalu mengarahkan anak didik pada 'hafal dan hafal'.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun