Mohon tunggu...
Fantasi
Fantasi Mohon Tunggu... Wiraswasta - Usaha Mikro

" When we are born we cry that we are come to this great stage of fools. " - William Shakespeare -

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Absurdnya Kasus Abraham Samad dan Bambang Widjojanto

8 Februari 2015   14:28 Diperbarui: 17 Juni 2015   11:36 528
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Saya sedang berada di ketinggian beberapa ribu kaki di atas permukaan bumi di dalam sebuah pesawat terbang yang sedang terguncang-guncang menghadapi gumpalan awan dan angin. Masih ada sekitar satu jam lagi sebelum tiba di tujuan.

Dalam situasi tanda "kenakan sabuk pengaman" menyala, tiba-tiba seorang penumpang di bagian depan bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke arah cockpit sambil berseru, "Saya akan keluarkan pilot dari pesawat!"

Orang-orang di barisan kursi paling depan berusaha mencegah menghalangi orang tersebut mendekati pintu cockpit.

"Ada apa?" tanya seseorang dari mereka.

"Pilot ini pernah memalsukan dokumen kependudukan. Orang seperti ini mungkin juga pernah nyontek waktu kuliah atau waktu mendapatkan lisensi pilotnya. Maka saya khawatir sekarang ini dia akan membawa pesawat ini ke tempat yang salah."

Tiba-tiba dari bagian tengah muncul seorang perempuan muda dan ikut berteriak," Ya, ya, lempar saja dia keluar. Dia pernah colek bokong saya lima tahun yang lalu. Orang tidak beretika seperti itu tak pantas mengendalikan pesawat."

Keriuhan meninggi. Beberapa orang mulai berkomentar. Sebagian mengolok-olok keabsurdan situasi itu, tetapi sebagian lagi mendukung atas nama hukum, moral dan etika.

Sebagian besar penumpang tampak ketakutan, karena apa jadinya dengan nasib kami jika pilot benar-benar dibuang dari pesawat. Belum habis kebingungan itu, seorang dari barisan belakang menerobos ke cockpit dan entah bagaimana bisa membuka pintunya. Dalam beberapa saat dia keluar dengan seorang berpakaian awak pesawat.

"Ini ko-pilot," teriak lelaki besar berkumis tebal itu sambil mencengkeram leher orang yang bersamanya, "adalah penipu! Dia pernah makan di warung saya dan mengaku hanya mengambil ikan padahal menurut karyawan saya, dia juga mengambil ayam balado. Dia nembak bayarnya. Penipu seperti ini sungguh berbahaya, dia bisa menyelewengkan arah pesawat."

Teriakan yang mendukung pilot dan ko-pilot dibuang ke luar semakin banyak. Tetapi, sebagian lagi protes keras, "Pesawat akan jatuh kalau pesawat tidak ada yang mengemudikan."

Mereka yang menginginkan pilot dan ko-pilot dieksekusi bergeming. Seseorang mewakili mereka berkata, "Kita sudah hubungi ATC dan minta Presiden Jokowi dan Menteri Jonan dengan persetujuan DPR mengirimkan pilot dan ko-pilot baru!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun