Mohon tunggu...
'eyyasy Kariem
'eyyasy Kariem Mohon Tunggu... -

mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Mu'tazilah

7 Februari 2011   01:24 Diperbarui: 26 Juni 2015   08:50 3744
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Ada juga yang menyatakan bahwa pemikiran Mu'tazilah tentang tiadanya sifat-sifat Allah itu berasal dari pokok filsafat Yahudi, Ja'ad bin Dirham mengambil pemikirannya dari Aban bin Sam'an, sedangkan Aban bin Sam'an mengambilnya dari Tholut, sedangkan Tholut mengambil dari pamannya, Lubaid bin Al Ashom seorang Yahudi11.

Kelompok Mu’tazilah juga berpendapat bahwa orang yang tidak sependapat dengan mereka dalam masalah tauhid dikategorikan sebagai orang musyrik, dan orang yang tidak sependapat dengan mereka dalam masalah sifat-sifat Allah dianggap sebagai musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan sesuatu). Sedangkan orang yang tidak sependapat dalam masalah Alwa’du wal Wa’id dianggap sebagai orang Murji’ah.sedangkan orang yang meyakini kelima prinsip Mu’tazilah, dikatakan sebagai seorang pengikut kelompok Mu’tazilah sejati12.



  1. Pemikiran Mu’tazilah yang baru

Banyak kitab dan para Pemikir pada zaman sekarang yang mencoba untuk menghidupkan kembali pemikiran Mu’tazilah setelah atau hampir hilang ditelan oleh waktu dan mengemasnya dengan kemasan baru, dan memberinya nama-nama baru, seperti kebebasan berfikir, pembaharuan, dan lain sebagainya, diantara Pemikiran mereka yang terbaru adalah:



  1. Akal merupakan jalan satu-satunya untuk sampai pada sebuah hakekat, sampai-sampai walaupun hakekat itu merupakan perkara syar’i yang ghoib, maksudnya ialah mereka menundukkan setiap Aqidah dan setiap pemikiran dibawah akal manusia yang pendek.


  2. Yang lebih menghawatirkan lagi dalam pemikiran Mu’tazilah adalah mereka mencoba untuk merubah hukum-hukum syar’i yang didalamnya tertera nash-nash dari Alqur’an dan Assunnah, seperti hukuman bagi orang yang murtad, kewajiban jihad, hudud, dan yang lainnya. Terlebih lagi tentang perkara hijab, poligami, pewarisan, dan lain sebagainya. Para pemikir Mu’tazilah meminta supaya perkara-perkara tersebut ditinjau kembali dan berhukum dengan akal terhadap perkara tersebut. Yang jelas akal yang dijadikan sebagai landasan hukum tersebut merupakan pengaruh dari pemikiran barat seputar keputusan-keputusan hukum tentang masalah tersebut pada masa sekarang.


  3. Termasuk diantara para penyeru pemikiran Mu’tazilah yang terbaru diantaranya adalah: -Sa’ad Zaglul yang menyerukan untuk melepaskan hijab bagi perempuan Mesir, -Qosim Amin pengarang kitab Tahrirul Mar’ah (kebebasan perempuan) dan Almar’ah Aljadidah (perempuan baru), Lutfi Sayyid yang disebut dengan Ustad Jil (Guru Bangsa) dan Toha Husain yang mempunyai nama Umaid Al Adab Al Aroby, dan mereka semua ini berada di negara Arab.

    HALAMAN :
    1. 1
    2. 2
    3. 3
    4. 4
    5. 5
    6. 6
    7. 7
    8. 8
    9. 9
    10. 10
    11. 11
    12. 12
    Mohon tunggu...

    Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
    Lihat Humaniora Selengkapnya
    Beri Komentar
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

    Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun