Mohon tunggu...
Erusnadi
Erusnadi Mohon Tunggu... Freelancer - Time Wait For No One

"Sepanjang sungai/kali masih coklat atau hitam warnanya maka selama itu pula eksistensi pungli, korupsi dan manipulasi tetap bergairah "

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Pengemis Komat yang Pura-pura Buntung

4 Agustus 2020   15:40 Diperbarui: 6 Agustus 2020   09:42 164
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kalau saja Komat punya lapak, dan menetap barangkali tidak terlalu capek ia menyusuri jalan. Jalan yang dilalui juga selalu dijaga satuan polisi PP. Tiga hari berturut-turut ia pernah dikejar oleh SATPOL di lokasi yang berbeda. Tiga hari itu juga kaki kiri yang dilipatnya terpaksa dilepas ikatannya agar bisa lari menjauh, dan lolos.

Padahal sebelum menuju ke lokasi itu sudah ia survey lebih dulu. Tetapi memang sekarang di jalanan ibukota ini sudah ketat dengan aturan bagi orang seperti dirinya. Apa mau dikata, hidup harus terus bergulir.

Komat tidak sendiri, masih banyak yang lainnya. Hanya saja dulu ia datang ke Jakarta ini tidak serombongan, tapi pribadi. Alasannya ketika itu agar ia bisa merdeka dan mandiri, tanpa perlu ada kordinasi segala. Ia bisa semaunya mendarat di lokasi mana saja. Di lampu merah, di muka mall, menyusuri lorong pasar, di perkampungan, bahkan di stasiun dan terminal.

Berbeda dengan orang lain yang diatur menurut perintah tuannya. Tiap orang sudah dipetakan di mana seharusnya  berada untuk posisi yang menguntungkan. Secara kalkulatif, kordinator sudah menimbang-nimbang untung ruginya. Biasanya mereka disebar di titik-titik yang ramai oleh pergerakan orang.

Bagi Komat, mereka tampak tunduk, dan patuh pada tuannya. Selain setoran 10 ribu tiap hari kecuali hari libur, mereka juga dikenakan tarif sewa bedeng tiap bulannya. Belum untuk MCK. Kalau dijumlah nyaris satu juta.  Tapi untungnya itu jika terkena operasi razia, mereka cepat dibebaskan. Tuan dan kordinatornya amat mujarab mengurus hal seperti itu. Tidak seperti Komat yang mesti bersiasat agar lolos dari sergapan petugas. Atau ia mesti siap diusir oleh orang yang tidak menerima kehadirannya.

Seperti hari Senin pagi itu.

Baru juga sedang menyiapkan alas plastik di dekat parkir motor pertokoan ia sudah di usir. Seorang juru parkir resmi memintanya untuk pindah. Meski terlihat juru parkir itu merasa iba oleh penampilan Komat. Katanya, ini ruang publik, dan tidak ada orang, bahkan kucing sekalipun di sini. Ini khusus untuk parkir motor.

"Mau ngemis kok di parkiran motor,"cetusnya.

Komat tidak menanggapi. Ia ngeloyor saja meninggalkan lokasi ini. Tongkat, dan kaki kirinya yang dilipat terasa berat kali ini. Borok buatan di ujung jempol kanannya dikerumuni lalat. Bajunya robek di sana sini, celana buluknya turun naik, dan ia dengan sabar membetulkan. Ia pun bergerak tertatih menuju lokasi baru. Sembari jalan, ia sodorkan ke orang-orang sebuah plastik bekas bungkus permen. Satu dua orang tak urung mengisi yang ia sodorkan.

500 meter sudah ia berjalan. Persis di muka pasar ia orientasi. Rasanya cocok untuk menggali rupiah di sekitar pasar ini. Ada pohon rindang, dan jarak tiga meter sejajar juga ada lapak penjual kembang. Dan, ini jalur keluar masuk para pedagang, dan pembeli. Tak jauh dari situ, pos polisi. Juga sekolah. Pendek kata sangat strategis bagi usahanya ini.

Ia segera ke lokasi, menyiapkan alas, dan duduk tenang, seraya sebelah tangannya meminta penuh harap. Sesuai dengan prediksinya, pedagang maupun pembeli yang lewat, mengisi kaleng bekas susu yang sudah penyok di hadapannya. Dirasa penuh, ia cepat tuangkan uang kertas maupun receh ke balik saku celananya yang sudah dimodifikasi.

Namun dari jarak 10 meter seorang lelaki kurus mirip dirinya mengawasi. Orang ini telah memperhatikan selama satu jam. Komat terlihat berulangkali memasukan uang ke balik celana komprangnya. Dalam satu jam itu dipikirnya Komat sudah bisa untuk makan selama tiga hari. Orang ini juga tahu ia pura-pura buntung di kaki. Segala borok, dan baju compang campingnya juga settingan Komat.

"Lagu lama ini diputer lagi,"cetusnya. 

Ia pun mendatangi Komat seraya membanting puntung rokok, dan diinjaknya.

"Darimana lu?"Tegasnya tiba-tiba.

"Dari tadi, bang,'balas Komat mengiba,

"Goblok!Bukan itu, lu siapa yang kordinir?"

"Gak ada, bang."

"Ini lapak si Kamit. Tumben hari ini gak datang dia. Bayar lu, satu jam 10 ribu di sini."

"Kok bayar?"

"Enak aja gratis. Mana ada lapak di sini yang gratis. Si Kamit setor satu jam segitu di hari Senin biasa. Bulan puasa 20 ribu satu jam. Ngerti?"

Ketimbang ribut, Komat keluarkan juga uang receh 10 ribu dan menyerahkannya. Orang ini bilang lagi setelah menerima uang itu, si Kamit di sini tiap Senin lima jam, satu minggu sekali. Jadi hokinya dia hari Senin. Satu bulan empat kali dia nongkrong. Selasa, rabu, kamis, jumat dan sabtu full. Minggu saja yang kosong. Mereka bilang katanya hari libur butuh refreshing.

"Gimana, mau gak hari minggu?"

Komat menimbang-nimbang. Daripada tidak ada lokasi alternatif, ia pun memutuskan setuju. Empat minggu dalam satu bulan cukup kiranya mendulang uang di sini. Lima jam jatahnya di kira-kira aman buat segala pengeluaran sehari-hari. Sisa hari lainnya ia masih bisa bergerak ke lokasi mana saja semaunya.

"Setujulah, bang."

"Ok. Sekarang jam 9. Jam satu minggat ya,"kata lelaki ini sembari pergi, dan Komat melihatnya menuju pos polisi itu. Entah apa yang dilakukannya.

Sejak itu tiap minggu Komat memiliki lapak tetapnya di lokasi yang strategis. Tapi di bulan berikutnya pada minggu ke empat, Komat sepi sedari pagi. Sebab orang-orang, terutama pedagang dan pembeli yang memperhatikannya merasakan hal yang aneh, dan ganjil.

Sesuai waktunya, lelaki kurus itu juga kembali mendatangi untuk meminta setoran padanya di siang jam satu. Rp50 ribu sudah ditangan lewat Komat, dari pojok pasar lain juga demikian. Maka ia langsung bilang pada Komat seperti biasa.

"Ayo setoran, mana?"Pintanya.

"Sepi ini, bang. Baru dua ribu dari pagi."

"Masa sih?Jangan ngibul lu!"

"Beneran. Bang!"

"Ah bohong ini. Ayo diri. Gue periksa kantong celana lu!"

Komat mau tidak mau berdiri dengan tongkatnya. Orang-orang selintas memperhatikan. Barangkali ada inspeksi dadakan, atau operasi senyap yang hanya mereka berdua yang tahu.  Tapi rupanya lelaki ini sewot sungguhan usai Komat berdiri menyangga tongkatnya, dan ia teliti ada yang janggal.

"Pantas aja sepi! Bulan kemarin kaki kiri yang dilipat, kenapa sekarang mesti diganti yang kanan?!"

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun