Teks-teks Foucault, Derrida, dan Deleuze menyediakan paragraf kegilaan tersendiri sebelum ketidakhadiran buku berubah menjadi permulaan teks tertulis yang baru.
Kemanakah seluruh kehidupan, apabila tidak ada pikiran murni? Ketidakhadiran kegilaan akan melemahkan tubuh, karena individu berasal dari tubuh. Bukan lagi cara menghakimi tubuh untuk menunduk dalam kesadaran palsu, melainkan tubuh merupakan dunia paling menggiurkan bagi daya hidup.
Insting mereka terhadap permukaan tubuh diambil-alih oleh alam, tetapi juga kemurniannya mengembalikan dirinya pada permainan topeng.
Kembali pada satu alasan, bahwa pikiran dan kegilaan sebagai melintasi eksistensi cahaya dan berada di luar ujung kegelapan malam yang panjang. Misalnya, kita akan menghitung semua bilangan menjadi ‘angka infinitas’.
Dunia akan berakhir pada pemusnahan setiap takhyul yang dikalikan dengan ratusan angka ”nol kecil.” Anehnya, angka nol merupakan bagian dari kebenaran matematika. Pikiran dan kegilaan hanya mencirikan kekuatan perbedaan kualitas dan kuantitas sebagai gairah. Keduanya menukik, menerjang dan menyebar di atas permukaan tubuh.
Sudah jelaslah, bahwa pikiran dan kegilaan tidak berasal dari satu energi, melainkan titik kewaspadaan pada gravitasi tubuh. Ia bukan kerataan permukaan.
Berpikirlah mengelabui tipu muslihat! Kita cukup sulit untuk menyeru. Berpikirlah dengan kegilaan!
Dalam kegilaan, pikiran dipandang setengah dan dipaksa tunduk melalui pengalaman batin atau ‘sensasi yang halus’. Tanda kegilaan sebagai akhir artikulasi kebenaran dari pikiran.
Seseorang tidak melatih dirinya untuk berpikir, bahwa keteraturan hidup dimulai dari kegilaan. Ambiguitas pikiran menjadi bahaya tersendiri, karena menolak kegilaan sebagai asal-usul alam.
Heraclitus hanyalah salah satu manusia kuno yang dihidupkan dengan pikiran, tetapi sangat rakus pengetahuan tentang kegilaan.
Alam yang dipahaminya sebagai alam bersifat mengalir bebas, yang harus dicairkan juga oleh zat mengalir (termasuk aliran darah), mengambil afirmasi dan penghakiman dari hukum alam. Kebenaran per se berada di luar pikiran dan dalam kegilaan.
Kant percaya bahwa sintesis a priori dan kategori imperatif sebagai kebenaran universal, karena secara umum dikatakan rasional menjadi logika transendental yang cair dan solid sesuai logika kausalitas.