Mohon tunggu...
Ermansyah R. Hindi
Ermansyah R. Hindi Mohon Tunggu... Lainnya - Free Writer, ASN

Bacalah!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Melacak di Bawah Meja dengan Jejak-Jejak Ketidakhadiran

23 November 2022   06:04 Diperbarui: 27 Februari 2023   07:02 234
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi "di bawah meja" (Sumber gambar: istockphoto.com)

"Di bawah meja" adalah istilah yang merujuk pada korupsi, yang dirahasiakan kedoknya, akhirnya terbongkar juga ke publik.

Saya percaya, 'bestie' tahu jika istilah tersebut diperkenalkan oleh Inggris, Perancis, dan Swedia, yang bermaksud untuk menghaluskan kata-kata uang pelicin menjadi transaksi "di bawah meja." Istilah tersebut sepadan dengan bau ikan mulai dari kepala, uang kecil, terima kasih, menghargai hingga kotak nokia.

Saya, Anda dan lainnya tidak sedang bermimpi dan terjaga. Dikatakan kita bermimpi, tetapi terjaga. Dikatakan terjaga, tetapi bermimpi. 

Tiba-tiba kita mengingat kembali pernyataan dari seseorang. “Mengerikan sekali korupsi di negara kita. Jiwasraya, Asabri, Pelindo, proyek fiktif di Kemen PUPR, Suap di KPU libatkan partai penguasa, kasus di Garuda.”

Pada saat mereka sebagai oknum terduga dan tersangka bukanlah menjadi subyek yang berpikir dari skandal institusi asuransi, kementerian, dan pemilihan umum begitu ringan membual. “Inilah Aku” adalah frasa yang pertama luput direkam oleh kamera dan hancur dalam dirinya. “Pemujaanku atas sesuatu yang nyata (modal-uang) menjadi kenikmatanku,” akhirnya mereka sebagai subyek tidak lebih dari korban perang narasi perubahan. 

Yang tersangka bermain di bawah meja tidak langsung dinyatakan vonis bersalah secara hukum. 

Pergerakan di bawah meja (uang pelicin, suap) sebelumnya berlangsung kekusutan pikiran, sekaratnya akal sehat atau keruntuhan nalar, dan kecarut-marutan seluruh pemikiran yang bersifat absolut, sublim, pasti, dan jelas. “Inilah Aku” memperlihatkan sesuatu yang tidak bergerak secara otomatis akibat subyek yang ada pada dirinya dibentuk oleh subyek tanpa pikiran yang mengarah pada proses materi.

Rentetan skandal di bawah meja merusak nalar. Setiap skandal suap ibarat orang buta yang tidak melihat cahaya terang dari luar. 

Suatu skandal suap yang hanya bisa dibuktikan kesalahan berpikirnya melalui operasi tangkap tangan (OTT). 

Dalam banyak kasus, setiap tersangka di bawah meja sudah jelas eksistensinya cacat. Kesadaran tersangka di bawah meja selalu palsu dan fatal. Tersangka sebagai subyek telah menjauhi subyek itu sendiri, dimana subyek bukan lagi sebagai pusat dari pikiran, ide, dan pengetahuan yang berlandaskan Cogito Cartesian. Istilah “penciuman” sang Lain (smell of the Other) merupakan penciuman tanpa alat penginderaan dan sarana pelacakan terhadap aroma benda-benda atau obyek-obyek tertentu. Penciuman menandai patahan dan celah subyek dengan titik tolak proses penghilangan jejak-jejak tulisan dan peristiwa mengakhiri perbedaan. 

Kesadaran tersangka kasus yang palsu dan fatal merupakan bentuk penghinaan terhadap dirinya sendiri. Maka, skandal di bawah meja juga menjadi selingan peristiwa. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun