Agnes memperhatikan, terpikat oleh ketelitian dan kehati-hatian yang ia curahkan dalam setiap gerakan. Uapnya mendesis, dan cairan kental berwarna gelap mengalir ke dalam cangkir dengan kedalaman dan kerumitan yang menjanjikan.
"Setiap cangkir menceritakan sebuah kisah," lanjut Aditya sambil menyerahkan kopi yang baru diseduh. "Ini adalah kisah asal usul, perjalanan, dan pada akhirnya, tentang tangan yang menciptakannya."
Dia menyesapnya, rasa terbentang di langit-langit mulutnya, permadani yang ditenun dari nada pahit dan manis. "Ini luar biasa," katanya, matanya mencerminkan keajaiban yang sama yang dilihatnya di danau bawah tanah. "Kamu telah mengubah sesuatu yang biasa menjadi sesuatu yang luar biasa."
Aditya tersenyum, merasakan gelombang kebanggaan. Saat mereka menyesap kopi, dunia luar memudar. Yang tersisa hanyalah dua roh yang sama, berbagi kesenangan sederhana yang telah membawa mereka lebih dekat---lebih dekat satu sama lain, dan lebih dekat untuk memahami makna hidup.
Kafe itu ramai dengan dengungan obrolan tengah hari, sebuah simfoni denting cangkir dan piring. Aditya duduk di kursi mewah, aroma biji kopi panggang yang familiar menyelimuti dirinya seperti selendang yang menenangkan. Tatapannya terpaku pada kanvas yang terbungkus Agnes yang meluncur ke seberang meja.
"Untukmu," katanya, suaranya terdengar seperti sapuan kegembiraan melawan ketenangan penantian pria itu.
Jari-jarinya menelusuri tepi kain, dengan hati-hati membuka lapisannya untuk memperlihatkan karya seni di bawahnya. Itu adalah sebuah lukisan---perpaduan abstrak warna coklat tua dan emas yang berputar bersama dalam sebuah tarian yang intim seperti percakapan mereka. Di tengahnya, sebuah cangkir espresso yang lembut, uap yang mengepul darinya membentuk bentuk-bentuk halus yang mengisyaratkan tawa dan bisikan mimpi mereka bersama.
"Agnes, ini... indah sekali," gumam Aditya tak mampu mengalihkan pandangan dari seni yang begitu gamblang menangkap esensi hubungan mereka.
"Anggap saja sebagai refleksi," jawabnya sambil menyelipkan sehelai rambut ke belakang telinganya. "Itulah cara saya memandang kami---perpaduan cita rasa individu yang menciptakan sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih kaya."
Aditya merasakan kehangatan menjalar di dadanya, gema dari kehangatan yang menyelimuti setiap goresan di kanvas. Namun di tengah bara rasa syukur, sebuah pertanyaan tak terucap muncul dalam dirinya. Dia bergeser dari kursinya, pikirannya mengarungi lapisan emosinya.
"Agnes, kapan kita menarik garis batasnya?" dia bertanya, keragu-raguan mengaburkan kata-katanya. "Antara siapa kita bersama dan siapa yang perlu kita pisahkan?"