Bila surat itu benar, aku akan punya kuasa untuk didengarkan.
Aku menelan ludah.
Kupejamkan mata dan menggeleng, lantas keluar. Betul-betul baru sampai depan, seseorang yang lewat dengan anjingnya menggonggong padaku, bicara, "Kau mau membunuh lagi?"
Maka saat orang itu mulai mengangkat teleponnya, aku berteriak padanya, "Hia'!"
Tapi dia mengernyit memandangku jijik, sambil berkata, "Kau menghinaku? Kau pikir aku tak tahu ucapanmu, cacat? Kau mengataiku, bukan?"
Dia mengangkat teleponnya.
Aku buru-buru masuk kembali ke rumah. Aku ambruk dan bersandar pintu, tubuhku terguncang hebat. Aku meringkuk, memeluk diriku sendiri. Saat aku mulai terisak, kulirik surat itu kembali.
Tak ada jalan lain.
Aku mengernyit, meraihnya, dan membuka telepon. Langsung kucari titik koordinat itu dengan tangan gemetar.
Lokasi keluar. Betul-betul ada. Harta karun itu tersembunyi di bawah jembatan utama. Aku berangkat, mengacuhkan seseorang dengan anjing yang masih menggonggongiku itu. "Hey cacat! Berhenti kau! Aku betul-betul akan menelepon polisi!"
Barangkali surat itu memang tipuan, sebab begitu aku sampai di sana, yang ada hanya sungai hijau beraroma bangkai tikus, dengan lumut dan kerak hitam di sekelilingnya. Tapi tak ada jalan lain. Aku mencebur ke sungai hijau kental itu, tak peduli dengan setelan terbaikku, merogoh-rogoh dasar sungai.