Buah pala yang dipanen, direndam selama tiga hari menggunakan air garam, lalu diangkat, dikupas, dibentuk bunga, dicuci selama dua hari, Â lalu dicampur dengan gula.
Dalam membuat manisan pala basah cukup direndam dengan gula, sedangkan untuk manisan pala kering, pala yang sudah direndam kemudian dicampur gula kering lalu dijemur selama satu hari di sinar matahari untuk dioven kemudian selama dua hari.Â
Jika dirunut pengolahan manisan pala sendiri bisa memakan waktu hingga satu minggu. Manisan pala yang sudah jadi awet selama satu tahun sedangkan pala kering dapat disimpan dalam kulkas selama enam bulan.
Jujur saja, ini pertama kali saya melihat dan menyicip manisan pala. Ibu Oyok sendiri menghasilkan manisan pala basah dan kering. Manisan pala kering ada tiga warna, warna alami pala (krem), warna hijau dan warna merah jambu.Â
Warna manisan pala dibuat dengan cara merendam buah pala sesuai dengan warna yang diinginkan selama dua hari. Lalu dikeringkan selama dua hari.
Untuk mencegah pembentukan busa selama direndam dengan air gula, diberi sedikit natrium bisulfit, pengawet makanan yang diperoleh dari apotik dan diberi takaran.Â
Menurut ibu Oyok, pemberian natrium bisulfit ini, walaupun aman untuk makanan, dia memberi sedikit saja karena pemberian terlalu banyak akan mengurangi rasa manisan pala.
Setelah manisan pala jadi, manisan pala dijual kepada reseller atau konsumen lainnya.Â
Sekelebat pikiran ini melayang, kalau kita ingat-ingat pelajaran sejarah dulu, dari buah pala yang kemudian dibawa ke negara-negara Eropa ialah bijinya.Â
Mengapa hanya bijinya ya? Saya cukup bertanya-tanya. Satu-satunya jawaban yang dapat saya kira-kira ialah karena daging pala lebih mudah mengalami pembusukan dibandingkan dengan bijinya yang tahan lama.