"Maksud Ibu?" tiba-tiba hatiku merasa tidak tenang.
"Dua tentara di pihak musuh diberitakan juga tewas."
Attaya! Mendadak aku teringat dia.
Tanpa mengindahkan peringatan Ibu aku berlari secepat kilat keluar dari tenda pengungsian.
"Attaya! Attaya!" aku berteriak sekeras-kerasnya begitu sampai di benteng perbatasan. Satu jariku kumasukkan ke lubang angin. Berharap Attaya menyentuhnya seperti biasa.Â
Tapi suasana tetap hening. Hanya sesekali terdengar suara debu menderu ditiup angin.
"Attaya! Jawablah! Apakah kau baik-baik saja?"
Aku baru saja menarik kembali jemari tanganku dan bersiap menempelkan satu mata agar bisa melihat Attaya di seberang tembok sana, ketika dua orang tentara berseragam menggelandangku. Menarik kerah bajuku dengan kasar hingga tubuhku nyaris terjengkang.
"Jamal?" aku terperangah. Menatap Jamal dan seorang temannya yang mencengkeram kuat-kuat pundak kurusku.
"Kau tahu hukuman apa bagi gadis-gadis kita yang jatuh cinta pada tentara musuh, Laila?" Jamal menatapku seraya tersenyum sinis.
"Apa hakmu melarangku mencintai Attaya, Jamal?" aku membalas tatapan Jamal tak kalah sengit. Jamal meludah. Lalu tangannya yang kekar sigap berpindah, mengokang senjata dan diarahkan tepat ke dadaku.