Hai Om... sapanya. Ia mendekat, dan memelukku. Mungkin ia rindu dengan sosok ayahnya yang dahulu sering mengajaknya bermain.
"Aku punya banyak kenalan, mudah-mudahan kamu mau kerja," kataku kepada Zubaidah yang masih terduduk lesu.
"Kerja apa? Aku nggak punya ijazah," keluhnya.
Ijazah semua diminta?" tanyaku. Zubaidah mengangguk.
"Tapi, itu soal gampang. Dulu kuliah jurusan apa?"
"Manajemen. Suami jugasama,"
"Nah, temanku buka usaha kecil-kecilan. Dia butuh karyawan untuk di toko rotinya. Memang baru dibuka kemarin, tapi dilakoni saja dulu. Siapa tau rezekimu di situ. Soal anak bawa saja di tempat kerja,"
Setelah perbincangan setengah memaksa, akhirnya Zubaidah bersedia kuantarkan ke tempat tinggalnya. Ia tinggal di sepetak rumah kontrakan yang ukurannya kurang lebih 4x5 meter. Terletak di Desa Terlangu di pinggiran Kali Pemali. Tak ada halaman rumahnya. Hanya teras depan rumah tidak lebih dari satu meter. Beralaskan tanah yang katanya itu adalah rumah bekas kandang kambing. Tentu tak mungkin aku menanyakannya lebih dalam.
Semua itu sudah cukup membuatku mengerti, alasan Zubaidah hanya bisa menjadi wanita peminta-minta. Ia masih setia menunggui suaminya pulang. Untung saja ia tak mengandalkan parasnya yang lumayan cantik agar sedikit dipoles gincu untuk menarik para lelaki di warung remang-remang sepanjang jalan Pantura.
Mungkin jika begitu, penampilan Zubaidah bisa lebih singset dan montok. Badannya berisi, tak seperti sekarang yang kurus tak terurus layaknya tabiat seorang perempuan yang lebih suka dandan.
"Aku pulang. Ini ada rezeki untuk beli bajumu dan anakmu. Jangan lupa besok datang ke toko roti temanku, tak jauh dari rumah sakit. Aku tunggu di situ," kataku, dibalas olehnya anggukan polos.