Kasta dalam KBBI daring memiliki makna golongan (tingkat atau derajat) manusia dalam beragama Hindu. Pada pengertian tersebut, dicantumkan pula sebutan bagi masing-masing derajat.
Belakangan, kasta seperti tak hanya berlaku pada satu agama saja. Dimana-mana orang bicara tentang kasta, tentang golongan. Sebagian sibuk memosisikan diri menjadi kalangan terendah demi sedekah. Sebagian lagi berupaya menjaga citra meski bukan dari golongan berada. Padahal, yang kaya hidupnya biasa saja.
Sedikit cerita tentang kasta
Beberapa waktu lalu, aku terjebak hujan dan memutuskan untuk bergabung bersama beberapa orang bapak petugas keamanan gedung sembari menunggu hujan reda untuk bisa melanjutkan perjalanan pulang. Sebagian bapak ini bahkan sudah bisa dipanggil kakek. Helai-helaian rambut putih telah mendominasi di kepalanya.
Memang, yang namanya ngobrol tanpa membatasi diri itu seru. Banyak hal yang bisa didapat dan dijadikan pelajaran.
Setelah ngobrol basa-basi tentang pulang ke mana, asli mana, kenapa kalau orang Batak meninggal malah dipestakan? Kenapa kalau orang Batak meninggal acara pernikahannya lama sekali? Banyak.
Bapak-bapak tersebut sepertinya sangat tertarik tentang hal yang mungkin belum begitu mereka pahami dan aku dengan sukarela berbagi cerita sepanjang yang aku tahu saja.
Sampai seseseorang lewat dari antara kami.
Perempuan cantik. Karyawan baru yang kebetulan berada di lantai yang sama denganku tapi beda perusahaan. Aku mengenal wajahnya, tidak dengan namanya.
Aku baru tahu kalau ternyata sesepuh juga senang sekali bercerita.
"Mba Efa, saya sering rendah diri kalau ngeliat mba itu deh."
Deg. Saya diam mencoba mencerna ucapan beliau. Sedikit berlebihan mungkin bagi beberapa orang. Tapi menurutku ini menarik. Bagaimana seorang perempuan cantik membuat seorang bapak tua merasa rendah diri?
"Kenapa Pak? Kok bisa?" aku bertanya
"Iya, mba itu kan baru ya. Tapi beberapa kali disapa sama security-security di sini ngga pernah mau sapa balik, Mba., Bapak itu menjawab lurus saja sembari sesekali melihat perempuan si staf baru. Mungkin beliau takut ucapannya terdengar.
"Ohhh, mungkin dia juga sungkan nyapa Pak. Kan masih baru," Hanya itu sepertinya jawaban bijaksana yang bisa menenangkan beliau dari rasa mindernya itu.
"Bukan begitu Mba. Kalau sekali dua kali sapa terus didiemin sih ngga apa-apa. Tapi kalau berkali-kali kita coba sapa dan ngga digubris ya sedih juga. Kayak kita ngga layak buat sapa dia gitu. Kan cuma security."
Aku diam. Dan hatiku sedikit teriris. Entah kenapa tiba-tiba keingat bapak yang di kampung.
Mungkin kalau bapak diperlakukan sama, aku pasti negur orang itu tanpa diminta. Beda dengan ini. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena tak mengenal bahkan nama perempuan itu meski kami satu kantor.
Sama seperti bapak petugas keamanan itu sampaikan, perempuan itu mungkin memang pelit berbicara. Atau mungkin merasa tidak perlu untuk berbicara dengan seseorang yang tidak begitu dikenalnya? Aku tidak tahu.
Beberapa kali aku bertemu dengannya di toilet kantor pun hal yang sama dilakukan juga padaku saat aku mencoba tersenyum kecil. Eilahh, datar aja gitu mukanya.Â
Berbeda dengan bapak petugas keamanan, saat aku diperlakukan seperti itu, aku juga akan melakukan hal yang sama padanya. Kupikir ngga ada ruginya juga kalau tidak bicara dengan orang itu. Dan ngga ada untungnya juga. Toh tidak ada kaitan pekerjaan dan tidak ada kebutuhan apa-apa yang berurusan dengannya.
Jadi tiap kali bertemu dengannya di toilet, kami seperti stranger padahal tiap hari melewati jalanan yang sama. Toilet yang sama. Akses lift yang sama. Hehehe. Lucu ya.
Ya itu, kembali lagi dengan kebiasaan ya. Mungkin kebiasaannya hanya berbincang sebatas dengan orang-orang yang dikenalnya saja. Aku tidak bisa memaksa orang lain untuk mengubah tabiat yang sudah mendarah daging.Â
Mungkin juga dia punya trauma tentang berbicang dengan seseorang yang tak dikenali? Bisa saja. Setidaknya, itu adalah pembelaan positif tentang perempuan tersebut.
Tentang Etika
Mengacu pada KBBI, etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajibann moral (akhlak). Tidak ada ajaran khusus seperti mata pelajaran tentang ini. Seingat dulu ada PMP. Kurang tahu apakah mata pelajaran itu saat ini masih ada atau tidak.
Selain itu, peran keluarga adalah hal yang paling penting untuk memupuk etika dalam diri seseorang.
Keluarga berperan mengajari hal-hal baik yang tidak diajarkan di sekolah, membuat hal tersebut menjadi kebiasaan yang mengakar dan tidak bisa dilawan.
Salah satu ajaran Oppung boru yang hingga saat ini melekat dan terus kulakukan secara spontan adalah menunduk dan menghampirkan tangan lurus ke tengah badan saat harus melewati orang tua yang sedang berkumpul.
Mungkin ini yang disebut mengakar kali ya. Udah umur segini, saat orang-orang sudah melupakan hal tersebut, aku masih saja melakukannya. Ya itu tadi, ajaran baik yang terus dilatih sejak kecil dari keluarga.
Kembali kepada bapak yang merasa minder dan si perempuan yang tak mau bahkan untuk tersenyum.
Aku ngga tau apa yang salah dengan perempuan itu. Tapi aku melatih pikiranku untuk terus berpikiran positif tentangnya dengan beberapa alasan seperti yang kusebutkan di atas.
Tapi begini. Bukankah manusia itu makhluk sosial yang pasti akan membutuhkan orang lain?
Katakanlah suatu ketika (amit-amit nih yaa) terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada perempuan tersebut di depan security-security yang sering dia abaikan, atau tergelincir di toilet saat hanya ada aku dan dia. Yang bantu siapa? Ya orang-orang yang ngeliat kejadian kan ya?
Kalau bapak-bapak security orangnya dendaman, bisa aja tidak akan bertindak apa-apa dan pura-pura tidak melihat karena faktor tidak suka yang timbul karena sikapnya bukan?
Maksudku adalah, apa sih susahnya balas tersenyum kepada orang lain?
Apa sih susahnya balik menyapa "pagi Pak" kepada orang tua yang sudah "memberikan diri" untuk lebih dahulu menyapa anak semuda itu.
Maksudku yang lain adalah terkait etika. Padaku yang memegang prinsip tidak peduli pada orang yang tidak peduli, tidak masalah. Tapi pada orang tua? Sepertinya ada etika yang harus tetap dijaga agar tak terjadi pemikiran adanya batasan kasta antara staf kantoran dengan seorang bapak yang hanya berjaga di depan basement gedung
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI