Mohon tunggu...
Jan Bestari
Jan Bestari Mohon Tunggu... Lainnya - Merayakan setiap langkah perjalanan

Refleksi kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Cinta Mati (12. Fly to the moon)

30 Januari 2022   19:06 Diperbarui: 30 Januari 2022   19:08 767
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi dari zedge.net diolah pribadi dengan pictsart app

"Ayo kita ke ruang santap malam. Disana orang-orang menunggu kehadiran kita," ajak Kemala dengan ekspresi wajah yang riang gembira. Matanya berbinar-binar seperti penuh harap agar aku segera menyetujui. Perutku memang terasa lapar karena hanya diisi kopi hangat saja beberapa waktu sebelumnya.

Mataku dimanjakan oleh detil keindahan kapal yang ada. Kami terus berjalan menuju tempat yang dituju bersama Kemala dan Fithar disisi kiri kananku. Mereka seperti membiarkan saja aku terlena dengan pemandangan yang sebelumnya tidak pernah kutemui. Lorong besar dan luas menghubungkan antara ruang terbuka di bagian depan kapal menuju ruang makan. Lampu-lampu penerang tidak hanya menyorot dari atas tetapi dari semua sisi baik samping maupun lantai-lantai yang ditanam lampu berwarna warni. Permadani tebal berwarna merah marun dengan corak ornamen kuning emas berpadu serasi disepanjang koridor utama.

Dinding kapal dibeberapa bagiannya dihiasi dengan dekorasi gambar mozaik futuristik seperti lukisan-lukisan abstrak. Pilar tiang-tiang yang menonjol diukir tangan yang dilapis warna emas. Dibeberapa bagian dinding juga di dekorasi dengan ukiran batu-batu pualam, jika disinari lampu akan berpendar. Semua ruang berbau harum semerbak dengan wangi seperti parfum mewah yang merangsang lembut indra penciuman. Perasaan tenang malam itu juga dikarenakan disampingku hadir seorang gadis cantik bernama Kemala.

"Dewa, posisi duduknya disini!" Ujar Fithar sambil menunjuk tempat yang sepertinya disediakan khusus untukkku. Ia mempersilakanku aku duduk bersila. Seperti tata cara adat melayu. Terasa nyaman duduk diatas karpet berwarna merah marun yang sangat tebal. Ruang tempatku duduk sekarang, sangatlah besar dan luas. Langit-langitnya sangatlah tinggi. Tidak tampak tiang-tiang pilar penyangga didalamnya. Ornamen dekoratif ruang jamuan makan itu didominasi oleh warna emas dengan hiasan relief-relief timbul seperti rebung dan sulur-sulur tumbuhan pakis muda merambat.

Aku duduk bersila di posisi tengah ruangan. Menghadap pintu utama tempat keluar masuk orang orang terhormat. Disamping pintu besar utama, berdiri panggung megah untuk penampilan hiburan-hiburan. Kembali harum aroma bunga melati segar yang sangat kentara diruang yang sangat besar ini. Dugaanku bahwa sumbernya berasal dari taburan bunga melati yang secara merata diatas karpet. Bunga-Bunga melati putih tersebut tergelatak sangat manis di atas karpet beludru merah yang kami duduki saat ini.

Pelayan-pelayan pria maupun wanita terlihat muda belia. Rata-rata umur mereka sekitar 20 tahun-an. Mereka hilir mudik dengan membawa nampan-nampan penuh berbagai macam aneka makanan, buah dan minuman. Kesibukan terlihat seperti menyiapkan acara resepsi pernikahan tokoh penting dan terpandang. Gaun pelayan wanitanya berpola baju kurung didominasi warna kuning emas dan berkain tapih hijau lumut. Kain tapih serta kerudungnya berupa kain sarung berhias taburan sulam tenun benang emas. Sedang para pelayan pria nya berbalut baju teluk belanga warna kuning emas lengkap dengan kain sabuk yang dipakai selutut berwarna merah manggis tua bertabur benang emas berkilau saat di sorot lampu diruangan yang teduh.

Diantara pelayan tersebut, ada yang tugasnya mengatur duduk tamu undangan. Tempat duduk perempuan dan laki ditempat pada barisan yang terpisah. Sebagian pelayan lainnya mulai membawa dan menyajikan hidangan yang akan disantap secara bersama-sama. Terlihat hidangan makanan berat disajikan dengan tata cara melayu yaitu model saprahan[1]. Piring-piring, mangkuk saji lauk pauk terbuat dari porselin kelas satu dengan motif bunga-bunga warna biru tua dan muda. Jenis makanan beratnya seperti yang biasa terlihat diacara hajatan perkawinan di kampungku. Sajian makanannya terdiri dari opor setengah badan ayam bumbu kuah lemak santan yang berwarna putih kental, semur daging, acar segar mentah dari irisan mentimun dan nenas ditambah irisan tipis bawang merah cabai merah dan hijau, tumis pedas kentang hati ayam dan terakhir tidak lupa serta sop ayam hangat bertabur jamur kuping tertata rapi dalam nampan-nampan kuningan mengkilat. Piring dan gelas ditata untuk kebutuhan masing-masing 6 orang per satu rombongan makan. Dibawah sorot lampu yang sangat terang hidangan makan malam yang telah tersaji tampak sangat menggugah selera. 

 Perlahan tapi pasti tamu-tamu yang datang mulai memenuhi ruangan yang aku sendiri juga tidak tahu darimana asal mereka. Semua tampak gembira dan bersemangat menghadiri acara resepsi makan malam ini. Senada dengan tampilan pelayan tamu yang ada, tamu-tamu juga berpakaian teluk belanga lengkap untuk yang laki-laki dan baju kurung untuk tamu perempuan meski dengan corak warna lebih berwarna-warni. Tanpa terasa kemudian sajian-sajian makan yang diatur dengan berjejer lurus sudah mendekati selesai. Mulai dari ujung keujung tampak telah terisi sajian saprahan nya. Tidak mudah mengatur segala sesuatu acara diruangan seluas lapangan bola tersebut.

 Terdengar musik sayup sayup. Kudengar alunan musik tanjidor dengan aransemen musik yang sangat enak dan merdu didengar. Pilihan lagu yang didengarkan seperti lagu-lagu melayu lama. Lagu yang dimainkan seperti lagu dengan judul Hang Tuah, Dang Merdu, Seroja, Fatwa Pujangga sampai dengan lagu Fly Me To The Moon mengalun lembut silih berganti diruang dengan tata suara yang terdengar sangat pas ditelinga. Waktu terasa berjalan lamban. Hal-hal yang bisa ditangkap panca indra terasa menenangkan dan membuat tenang jiwa raga. Wajah tamu-tamu juga semuanya berwajah menenangkan dan tampak bahagia.

 Tamu-tamu telah berada ditempatnya duduknya masing-masing. Makanan juga telah tersaji didepanku yang sangat menggugah selera. Tetapi, belum ada arahan untuk melanjutkan bersantap makan malam. Sepertinya masih ada tamu agung yang ditunggu. Tujuh tempat duduk masih sengaja dikosongkan. Salah satu tempat yang belum diisi persis tepat berada didepanku.

 Terlihat sesaat kesibukan pelayan mulai meningkat,sepertinya orang penting yang mempunyai hajatan akan bersiap untuk masuk ruangan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun