Mohon tunggu...
I Ketut Suweca
I Ketut Suweca Mohon Tunggu... Dosen - Dosen - Pencinta Dunia Literasi

Kecintaannya pada dunia literasi membawanya suntuk berkiprah di bidang penulisan artikel dan buku. Baginya, hidup yang berguna adalah hidup dengan berbagi kebaikan, antara lain, melalui karya tulis.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

"Merdeka Membaca" untuk Indonesia Cerdas!

20 Agustus 2024   08:44 Diperbarui: 20 Agustus 2024   16:31 169
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: Membaca bangkitkan kecerdasan (Sumber gambar: gramedia.com).

Para guru dan dosen tentu sangat familiar dengan istilah merdeka belajar. Istilah ini sudah jamak diketahui dan dimengerti maknanya oleh kalangan pendidik. Tetapi, bagaimana dengan merdeka membaca?

Sebatas pengetahuan penulis, belum ada kebijakan pemerintah yang secara khusus menyebut istilah merdeka membaca.

Penulis akan mencoba mengemukakannya di sini untuk kita bersama-sama pahami, renungkan dan perjuangkan terutama oleh kaum pendidik pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Merdeka Membaca, Apa Itu?

Apa yang dimaksud dengan merdeka membaca (freedom to read)? 

Penulis mengartikan merdeka membaca sebagai kebebasan dalam mendapatkan dan menggunakan bahan bacaan sebagai sumber ilmu pengetahuan, hiburan, dan pendidikan.

Merdeka membaca boleh dimaknai sebagai upaya untuk terciptanya kebiasaan dan budaya membaca. Kebiasaan dan budaya membaca ini pada akhirnya akan membawa suatu bangsa pada kecerdasan dan kebijaksanaan tertingginya.

Peningkatan peradaban manusia banyak disokong oleh bacaan dan penulisan bacaan atau buku dalam berbagai media yang dipakai dari zaman ke zaman.

Demikian juga sebaliknya, tingkat peradaban manusia dapat diketahui dari peninggalan berupa tulisan di daun lontar, buku, phapirus, pahatan di batu, dan sarana lainnya yang dipakai sesuai dengan eranya.

Beberapa Aspek Merdeka Membaca

Jika diurai lebih jauh -- menurut penulis, merdeka membaca memiliki beberapa aspek.

Pertama, merdeka memilih bacaan.

Sumber bacaan terkait erat dengan bacaan yang dibutuhkan. Apa bacaan yang dibutuhkan? Antara lain adalah bacaan yang sesuai dengan tugas dan kewajiban seseorang.

Misalnya, seorang mahasiswa akan memilih buku yang sesuai dengan studi yang tengah ditekuninya. Tanpa buku, akan sulit baginya untuk tumbuh-kembang di dalam dunia ilmu pengetahuan.

Selanjutnya, ada juga bacaan yang dibutuhkan sesuai dengan minat si pembaca. Ya, seorang pembaca bebas memilih bacaan sesuai minat atau kesenangannya.

Mungkin dia suka membaca buku-buku tentang pengembangan diri, membaca tentang manajemen, tentang kepemimpinan, tentang teknologi komputer, dan seterusnya. Mungkin juga ia berminat tentang bahasa, sehingga akan memperdalam bidang yang satu ini dengan sungguh-sungguh.

Ia mesti merdeka dalam menentukan sumber bacaan yang dipilihnya selaras dengan minat atau ketertarikannya yang kuat terhadap bidang tersebut.

Kedua, merdeka dalam membaca.

Membaca adalah proses menyerap isi buku bacaan. Isi buku itu bisa berupa ilmu pengetahuan, hiburan, dan penambah wawasan lainnya.

Dengan membaca, orang akan bertambah pengetahuannya. Ini sudah pasti. Semakin intens ia membaca, semakin luas dan/atau dalam juga pengetahuan yang bersangkutan.

Filsuf Rene Descartes pernah menulis bahwa "membaca semua buku yang bagus layaknya sebuah percakapan dengan pemikiran terbaik di abad-abad sebelumnya."

Membaca tidak selalu harus dibarengi dengan menerima begitu saja apa yang dibaca. Dalam membaca, pembaca juga boleh bersikap kritis. Artinya, dia masih tetap bisa mengkritisi apa yang sedang dibacanya. Dengan kata lain, pembaca bisa berdialog secara imajiner dengan penulisnya.

Pada beberapa bagian dari buku yang sedang dibacanya, ia bisa membandingkan isi bacaan itu dengan pemikirannya sendiri atau dengan isi buku sejenis yang pernah dibaca sebelumnya.

Dia juga bisa membandingkannya dengan realita di lapangan. Terkadang, apa yang ada di buku lebih pada tataran konsep atau teori yang acapkali berbeda dengan kenyataan. Intinya, orang tidak harus selalu setuju atau sependapat dengan isi buku yang dibaca.

Jadi, membaca itu selain menambah ilmu pengetahuan, juga mempertajam kemampuan berpikir kritis.

Ketiga, merdeka mengakses buku bacaan.

Merdeka membaca juga berarti adanya kesempatan yang luas untuk mengakses buku-buku bacaan dan sumber informasi lainnya.

Untuk mendapatkan buku bacaan, orang bisa dengan membeli buku di toko buku atau secara online. Bisa juga dengan meminjam buku di perpustakaan terdekat, baik di perpustakaan umum, perpustakaan desa, maupun perpustakaan yang didirikan oleh perorangan yang terbuka untuk umum.

Tak tercuali, ada juga kemudahan mengakses buku-buku digital. Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, misalnya, sudah melakukan ini. Masyarakat dengan mudah bisa mengakses dan membaca buku-buku digital yang disediakan Perpusnas RI.

Menuju Indonesia Cerdas

Apa yang dilakukan Perpusnas RI ini merupakan contoh yang sangat baik. Kian banyak buku yang bisa diakses melalui internet, semakin terbuka pula kesempatan masyarakat luas untuk membacanya. Ini bagian dari freedom to read.

Di samping tersedia buku-buku fisik, baik dengan membeli maupun dengan meminjamnya di perpustakaan terdekat, juga ada buku-buku bacaan digital. Semua ini akan meramaikan khasanah perbukuan di Tanah Air sekaligus mendorong minat dan budaya baca masyarakat. 

Indonesia membaca adalah Indonesia cerdas. Indonesia cerdas adalah Indonesia maju. Bukankah demikian?

(I Ketut Suweca, 19 Agustus 2024).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun