Beberapa sumber lain menyatakan kalau sukuisme adalah praktik yang lebih memandang sukunya sendiri lebih penting daripada suku-suku lainnya.
Hemat saya, penilaian berbahasa daerah sebagai sukuisme cukup berlebihan. Mana mungkin, gara-gara berbahasa daerah, kami dinilai sukuisme.
Padahal kami tidak melakukan pemaksaan kepada yang lain untuk menggunakan bahasa daerah yang kami gunakan. Bahkan tidak sekalipun, bahasa daerah yang kami pakai menjadi standar utama dalam berbahasa di komunitas.
Penilaian ini tentunya mendapat penolakan. Gara-gara berbahasa daerah di antara kami sendiri, kami dicap sukuisme.
Umumnya kami berbahasa daerah itu dalam rupa percakapan ringan dan dengan sesama kami yang sedaerah. Selebihnya, saat dalam percakapan dengan teman lain dari suku dan daerah berbeda, kami tetap berbahasa Indonesia.
Di satu sisi, penilaian sukuisme bisa saja hadir karena ketidaknyamanan yang dialami. Pasalnya, saat kami yang sedaerah mendominasi dalam sebuah kelompok, kami cenderung berbahasa daerah.
Saat kami bertemu satu sama lain, kami cenderung berbahasa daerah walaupun ada sesama yang lain yang kebetulan lewat.
Mungkin karena situasi ini, mereka mencap kami sukuisme. Tetapi kalau ditilik dari pengertian sukuisme itu sendiri, berbahasa daerah bukanlah upaya untuk mementingkan budaya kami sendiri. Kami berbahasa daerah karena itu yang membuat kami nyaman berbicara di antara satu sama lain.
Pengalaman ini memberikan pelajaran tersendiri. Saya baru mulai tersadar saat saya masuk dalam konteks di mana saya sendiri dari daerah berbeda dan yang lain adalah sedaerah. Ini terjadi di Filipina.
Di saat saya belum memahami bahasa Tagalog, bahasa yang dipahami secara umum di Filipina, saya kerap berhadapan dengan teman-teman yang biasa menggunakan bahasa Tagalog.Â
Bahkan saat saya berada di antara mereka, mereka tetap berbahasa Tagalog. Kelihatannya mereka nyaman berbahasa Tagalog, walau saya ada di antara mereka.
Lantas, apakah saya tersinggung? Saya sedikit tersinggung.