Sekitar akhir abad ke-19, mbah Soero dan ratusan tahanan lainnya dari Pulau Jawa diangkut menuju sebuah daerah yang kaya akan tambang di pelosok Sumatera Barat.Â
Dengan menggunakan kapal hingga pelabuhan Teluk Bayur, Mbah Soero diangkut menuju lubang tambang di Sawahlunto dalam gerbong kereta yang pengap. Beberapa di antaranya pingsan bahkan meninggal dunia setiba di Stasiun Sawahlunto karena tak tahan panasnya udara dalam gerbong.
Penjajah Belanda memang mempekerjakan para tahanan dan pembangkang dari pulau lain untuk menghemat biaya sekaligus membuang mereka dari tanah kelahirannya, serta mendatangkan tenaga murah asal negeri Tiongkok.
Mereka hanya diberi jatah makan seadanya yang dimasak di Goedang Ransoem. Setiap hari dapur tersebut memasak untuk sekitar 3000 orang pekerja tambang yang tak tentu jam kerjanya. Pecut selalu menanti pekerja yang tampak mulai kelelahan memaksa mereka bangun kembali hingga tubuh tak sanggup lagi berdiri.Â
Sampai akhir hayatnya, Mbah Soero tak pernah lagi melihat tanah kelahirannya. Tinggallah lubang tambang tersisa sebagai saksi hidup perjuangan beliau mengore-orek Bumi Minang demi kepuasan sang penjajah.
* * * *
Dikutip dari situs resminya, UNESCO pada sidang Komite Warisan Dunia yang diselenggarakan di Azerbaijan pada sesi ke-43 memutuskan bekas tambang batubara Ombilin di Sawahlunto sebagai cagar budaya warisan dunia bersama enam lokasi lainnya di dunia ((1) dan (2)).