2. Syair Perahu
Syair ini melambangkan tubuh manusia yaitu sebagai perahu yang sedang berlayar di laut. Dimana pelayarannya ini dipenuhi dengan tantangan atau marabahaya yang mengancam. Jika manusia itu kuat memegang keyakinannya maka dapat dicapai tahap melebur perbedaan antara Tuhan dan hamba-Nya.
3. Syair Dagang
Syair ini berbeda dengan syair-syair Hamzah yang lainnya. Dimana dalam syair satu ini menceritakan tentang kesengsaraan seorang anak yang hidup di tanah rantau. Hal ini membuat para sarjana meragukan syair dagang ini sebagai hasil Karya Hamzah al-Fansuri. Menurut Abdul Hadi WM, hal itu ada alasannya yakni terdapat beberapa kata yang memakai bahasa Minang yang mana tidak ada dalam karya Hamzah lainnya. Kemudian, isinya terlalu dangkal yang tidak mencerminkan karya Hamzah lainnya. Selanjutnya, syair dagang ini diposisikan sebagai syair pelipur lara. Namun, ada yang berpendapat bahwa syair dagang ini di buat oleh Hamzah disaat Hamzah belum matang secara spiritual dan pengetahuan sehingga beliau belum mampu mengungkapkan keseluruhan mengenai pemikiran tasawufnya.
Kemudian, berikut karya-karya Hamzah al-Fansuri yang berbentuk prosa diantaranya:
1. Asraarul Arifin Fi Bayani Ilmis Suluk wat-Tauhid
Dalam kitab Hamzah al-Fansuri ini membahas tentang masalah ilmu tauhid dan ilmu tarekat. Di pendahuluan kitab ini, dinyatakan bahwa manusia dijadikan oleh Allah SWT diberi rupa lengkap yaitu mata, telinga, akal, hati dan budi. Oleh sebab itu, sebagai manusia kita hendaknya mencari Tuhan dengan mengenal makrifat.
2. Syaraabul Asykin
Kitab ini dikenal dengan judul Zinat al-Muwafidin yang artinya perhiasan segala orang yang muwahidi. Dimana dalam kitab ini terdiri dari tujuh bab. Dan beliau mengarang kitab ini menggunakan bahasa Jawi (Melayu) bagi orang yang tidak mengerti bahasa Parsi dan Arab.
3. Al-Muntahi
Dalam kitab Al-Muntahi ini, Hamzah al-Fansuri mengumpulkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, hadist, ucapan para sufi dan penyair, untuk menjelaskan barang siapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya.