Mohon tunggu...
Dimas Yuri Ramdhana
Dimas Yuri Ramdhana Mohon Tunggu... Lainnya - Editor dan Penulis Lepas

https://www.froyonion.com/news/potensi-diri/kejar-cita-cita-ala-charles-bukowski

Selanjutnya

Tutup

Foodie Artikel Utama

Kedai Es Teh Jaya Abadi di Bogor yang Tidak "Kekinian"

29 November 2022   15:21 Diperbarui: 30 November 2022   15:45 3896
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kedai Es Tes Jaya Abadi, dari tampak depan. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

 

Saya tertegun ketika melihat di twitter sebuah bangunan bergaya lama dengan sedikit unsur art deco dengan tulisan bernuansa retro. Tulisan pada bangunan itu berkata, "Kedai Es Teh Jaya Abadi." 

Bukan bermaksud apa-apa, namun sekarang ini yang banyak menjamur di sekitar kita adalah booth es teh kekinian dan tempat minum kopi. 

Mungkin, saya norak dan agak berlebihan karena merasa kegirangan ada tempat yang menyajikan teh dengan konsep "tradisional", namun modern.

Kedai tersebut menggoda untuk dihampiri. Kelihatannya begitu estetik membuat rasa penasaran orang-orang muncul saat melihatnya. Sebuah rasa yang kadang dilupakan orang-orang dalam menjaga sebuah hubungan. 

Setelah melihat beberapa akun Twitter menceritakan pengalamannya berkunjung ke sana, saya memutuskan untuk mendatanginya pada akhir pekan.

Saat melangkah mendekat dan masuk kedai tersebut, saya merasakan suasana yang sama seperti saat melangkah di kawasan kota tua dan kemudian masuk ke dalam museum di sana. 

Tempat ini memang sedikit seperti museum, menyimpan hasil kebudayaan manusia; dari poster-poster iklan yang menempel di dinding, karya-karya pada bungkusan teh yang bertumpuk, sebuah televisi tabung, hingga desain arsitekturnya. 

Pintu, jendela, kursi-meja, serta meja bar dan lemari yang dihadirkan bernuansa serupa. Semuanya tampak seirama. Selain itu, bentuk jendelanya mengingatkan saya pada rumah-rumah lama di Yogyakarta atau Surakarta.

Kedai Es Tes Jaya Abadi, dari tampak dalam. (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Kedai Es Tes Jaya Abadi, dari tampak dalam. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Kedai tersebut menarik dan mata saya jatuh hati. Rasanya seperti berdiri di depan rumah nenek di kampung. Pada bagian teras ada tempat duduk. 

Di pinggir bagian luar bangunan dekat jendela, juga ada tempat duduk. Masuk ke dalam, ada tiga meja kecil. Satu di sebelah kiri dekat lemari kayu berisi tumpukan teh dan dua pada sisi sebelah kanan dekat tembok dan jendela. 

Di sisi lain, ada meja bar tempat pramusaji dan artisan menyiapkan teh sesuai pesanan. Di ujung sana dari arah pintu, ada kumpulan poster yang menempel di dinding dan sebuah televisi tabung.

Di luar kedai, ada satu yang mata saya tangkap yang melengkapi suasana kedai tersebut, yaitu penjaga parkir motor yang merupakan seorang pria yang tampak sudah cukup lawas. 

Dengan rambut putihnya, ia memakai seragam, topi, dan jam tangan emas. Gayanya dengan kedai itu cukup selaras. Ia berjalan ke sana ke mari mengitari parkiran yang cukup luas untuk satu kawasan perkiosan. 

Rasanya seru jika duduk bersamanya mengisap tembakau dan menyeruput wedang. Umur setua itu, pasti banyak yang bisa ia ceritakan. Namun, saya tidak mau mengganggu pekerjaannya.

Kedai Es Tes Jaya Abadi. (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Kedai Es Tes Jaya Abadi. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Saya tiba di sana sekitar pukul lima sore dan kondisi cukup ramai. Tidak hanya pria, wanita pun ada. Tidak hanya anak muda, orang tua pun datang. 

Kami semua sama; dibuat tertarik untuk datang berkunjung, melihat-lihat sekitar, menyeruput teh yang disajikan, dan duduk barang sepuluh sampai lima belas menit. 

Ditambah, mata akan berusaha meyakinkan diri dan hati akan tertegun sesaat ketika melihat menu karena harga minumannya cukup murah dan variannya cukup banyak.

Saya membaca penjelasan pada setiap menunya. Minuman teh yang disajikan merupakan campuran dari berbagai merk teh. Ada teh lokal dari Solo, Pekalongan, dan Karanganyar. 

Beberapa wilayah di Indonesia, misalnya Solo, menyajikan teh dengan mencampur tiga sampai lima merek teh, kemudian diseduh dengan air panas dan ditambah gula. Teh tersebut disajikan dengan nasgitel: panas, legi (manis), dan kentel (kental). 

Ada juga yang menyebutnya wasgitel: wangi, sepet, legi, dan kentel. Hampir mendekati umur tiga puluh, saya baru tahu ada cara minum teh dengan mencampur merek teh dan saya pun mengetahuinya dari orang Solo. 

Untuk informasi, ternyata tidak hanya Kedai Es Teh Jaya Abadi yang menjual es teh campuran tradisional dengan modern seperti itu, salah satunya Es Teh Tali Pinggir di Bandung.

Perjalanan dari Depok menuju kedai es teh yang berada di Bogor itu cukup jauh. Namun, mudah dijangkau dengan kereta. 

Saya menaiki KRL sampai di Stasiun Bogor, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki melalui beberapa jembatan dan beberapa kali menyeberang. Saya melewati sebuah sungai yang mengalir di bawah jalan. 

Saat tiba di depan si Teteh pramusaji, keringat melekat di dahi dan kemeja meskipun saat itu udara dingin karena sehabis hujan.

Seorang kawan pernah berpendapat bahwa tidak seperti kopi, kenikmatan minum teh itu meliputi kegiatan sebelum, sedang, atau sesudah kegiatan minum teh. 

Misalkan, sebelum sarapan, perut sedang kurang nyaman, atau sesudah bermain sepak bola. 

Minum teh tawar sehabis makan siang di warteg, warpad, atau warsun sungguh lebih nikmat, apalagi selama makan tidak minum sama sekali. Begitu pun saya, sesudah berjalan cukup jauh, lalu meminum es teh manis, sungguh nikmat rasanya.

Es teh manis begitu segar. Sejak sekolah dasar sampai kuliah, bahkan kerja, tidak ada yang menepikan dan berkata bahwa es teh manis tidak enak. Bagaimana rasa es teh di kedai tersebut? 

Tentu rasanya manis, segar, dan wangi. Apakah ada yang spesial atau berbeda? Tentu wanginya berbeda dengan teh yang diseduh dari satu macam teh. Ia terasa lebih dibandingkan satu teh celup biasa.

Kedai Es Tes Jaya Abadi. (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Kedai Es Tes Jaya Abadi. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Saya juga memesan wedang teh tubruk tanpa gula alias tawar. Rasanya wangi, sepet, dan ada sedikit manis pada after taste-nya karena berasal dari aromanya. Sesungguhnya rasa itu bukan hanya berasal dari lidah, melainkan juga dari indra penciuman. 

Coba saja makan atau minum dengan hidung tertutup, maka rasa yang menempel pada lidah tidak seperti biasanya. Jika memang ingin benar-benar merasakan asli rasa teh, minumlah teh tawar tanpa gula. Akan tetapi, kalau pun saya datang lagi ke kedai tersebut, saya ingin memesan wedang teh tubruk dengan gula.

Ada tiga pengalaman minum teh yang membekas buat saya. Pertama, minum teh di rumah mbah (nenek) setiap pagi waktu kecil ketika menginap libur panjang. Kedua, minum teh bersama ibu dan ayah dengan cara menyelupkan roti tawar kadang-kadang. 

Ketiga, minum teh bersama kekasih dalam satu gelas setelah malam yang panjang. Dan yang terbaru, minum teh di kedai es teh ini karena saya belum pernah melakukan perjalanan cukup jauh hanya untuk mampir ke kedai dan meminum es teh.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun