"Memandang itu harus obyektif saudari Bunga. Jangan subyektif begitu. Semua pasti bilang, materinya sudah menjelaskan dan terbaik. Dan itu tidak menjawab pertanyaan saya sama sekali," Matahari makin tak mau mengalah.
"Ya lebih baik Anda baca dulu,"
"Sudah, makanya saya tanya. Jangan-jangan Anda yang nggak paham nih,"
Untung sudah mulai pusing, dan ia sebagai moderator mulai melerai, "Sudah, sudah. Ayo kita kembali ke topik,"
"Topik lagi izin ke toilet, Bang." canda Matahari disambut tawa.
Bunga memaki dalam hati, gemas juga melihat Matahari yang di perdebatan seperti itu, masih bisa melempar Joke yang pas, jadi sesaat bisa meluluhkan ketegangan suasana.
"Tolong serius, Mat," tegur Untung.
"Saya kan dari tadi serius, bang. Tapi Saudari Bunga ini yang nggak bisa serius menjawab pertanyaan saya."
Bunga spontan hendak berdiri saking kesalnya, tapi ditahan oleh teman-temannya supaya ia bersabar, "Baik saya jelaskan."
"Nah, dari tadi dong. kan saya juga nungguin ini," jawab Matahari santai dengan meluruskan kaki serta menaruh dua tangganya di belakang kepala.
"Cara terbaik supaya Karang Taruna dikenal adalah dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang bisa masuk ke dunianya anak-anak muda. Setelah itu ajak mereka untuk terlibat, sama seperti saya yang pada awalnya sebenarnya sama sekali tidak tahu tentang Karang Taruna." Bunga menjelaskan dengan tangkas.