Sayangnya, Allah berkata lain lagi. Meleset jauh dari harapan Danar. Zaki tersingkir di seleksi kedua. Ia adalah urutan ke 27 dari 25 santri yang dinyatakan lulus dan berhak sekolah di sana.Â
Pulang ke rumah, Danar berkata dengan putus asa, "ini adalah hukuman dari Allah atas dosa-dosa kita. Mari kita bercerai saja!" katanya seolah tanpa beban mengatakannya.
Saat itu aku kehabisa kata. Tidak habis pikir dengan caranya mengambil sikap. Anak kami nyaris kehabisan waktu untuk mendaftar sekolah, apakah membahas perceraian jauh lebih penting daripada bekerja sama untuk mencarikannya sekolah lain agar Zaki tidak tertinggal? Tahun ajaran baru semakin dekat dan Zaki tidak mendaftar lagi ke sekolah manapun.Â
Hh, lelah memang jika mengingat kejadian-kejadian itu.Â
Aku melirik Zaki yang lagi sibuk mengamati sekeliking. Tidak seperti pada umumnya, pesantren ini memiliki bangunan yaang megah dengan bentuk minimalis. Sepertinya pendiri sekolah menyewa seorang arsitek andal untuk menyelesaikan semuanya. Catnya yang berwarna krem dipadu dengan warna cokelat muda memberikan kesan mewah tetapi tetap elegan.Â
Zaki tampak berjalan-jalan berkeliling mengamati ruangan kelas yang kelak akan menjadi tempat belajarnya, jika ia memang lolos tes di sini. Langkahnya sedikit pelan dibuat-buat mencoba menyeimbangkan langkah petugas penerimaan siswa baru di sana.Â
"Gimana, Sayang? Kamu suka kalau nanti sekolah di sini?" tanyaku pada lelaki kecil berusia 12 tahunan itu.
Zaki hanya tersenyum tipis. Sejak dulu Zaki selalu nurut apa yang dikatakan oleh orangtuanya. Meskipun kepatuhan itu memiliki alasan yang berbeda antara patuh padaku dan kepada Danar ayahnya.Â
Tempo hari, sebelum kami akhirnya mendarangi pesantren ini untuk mendaftarkan Zaki, aku sendiri sempat bertanya kepadanya tentang kesiapannya memasuki pesantren. Aku sendiri khawatir jika anak semata wayangku merasa terpaksa. Maklum, ia baru akan lulus SD tahun ini.Â
"Aku tidak masalah, Bunda. Gak apa-apa aku mesantrean. Asal aku gak disuruh tinggal sama ayah," jawabnya.Â
Hatiku bagai teriris sembilu. Ternyata luka batin Zaki belum juga sembuh. Padahal Danar sekarang sudah jauh lebih baik. Sikap tempramennya tidak lagi kentara. Mungkin belajar agama membuatnya jauh lebih paham bagaimana bersikap sebagai seorang lelaki, suami dan seorang ayah. Namun walaupun begitu, hatiku masih sama koyaknya. Jika bertemu dengan dia, bayangan-banyangan kesakitan masa lalu masih tergambar jelas, seolah menyiramkan air garam dalam sayatan-sayatan luka di dalam sekujur tubuhku.Â