Tahukah Anda apa yang terjadi ketika seseorang sedang dalam masa "kelam" trauma? Ada tiga hal penting yang ingin saya bagikan, supaya kita bersama belajar dari penyintas trauma.Â
Pertama, seorang penyintas trauma akan selalu merasa waspada. Sistem kewaspadaan dalam tubuhnya akan bekerja secara terus-menerus, sehingga rasa takut, cemas, khawatir, berjaga-jaga, selalu ada dalam dirinya.Â
Mengapa ini bisa terjadi? Amygdala, salah satu bagian otak yang bekerja bila ada stimulan yang datang sebagai ancaman, sehingga kita dapat mengambil keputusan untuk fight, flight, or freeze, bekerja begitu luar biasa. Bahkan sangat aktif.Â
Tubuh fisik seseorang yang mengalami trauma akan terus-menerus bekerja sedemikian rupa supaya selalu berjaga-jaga.
Kedua. Pernahkah kita mendapati seseorang yang sedang mengalami trauma tetiba tidak mampu berkata-kata, atau mengekspresikan emosinya?Â
Ya, ternyata respon penyintas trauma bukan saja menunjukkan kepanikan. Bahkan dalam beberapa kasus, penyintas trauma lebih memilih untuk diam. Baik diam karena ada perasaan takut dan malu yang teramat dalam, maupun diam karena tidak mampu lagi merasakan emosinya. Numb!Â
Seorang korban pelecehan seksual maupun perudungan akan merasa lebih (ny)aman bila menekan perasaannya, menyembunyikan ketakutannya, dan mencoba melupakan apa yang telah terjadi di masa lalunya. Bayangkan saja seseorang yang tidak mampu merasakan emosi apa pun. Datar...Â
Akan tetapi, siapa yang dapat melupakan sebuah kejadian yang menyakitkan?Â
Dalam budaya masyarakat kita seringkali memandang korban pelecehan seksual dan atau perundungan adalah pihak yang "dipersalahkan". Coba perhatikan, seberapa sering kalimat berikut ini kita dengarkan,Â
"Udahlah, lupain aja. Ga usah dipikir."
"Makanya, jadi perempuan itu mustinya bisa jaga diri, biar engga dilecehin."