Mohon tunggu...
Dewi Pagi
Dewi Pagi Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Say it with poems & a piece of cake...| di Kampung Hujan

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Artikel Utama

Ditagih Debt Collector Leasing Kendaraan, Bagaimana Menghadapinya?

14 September 2015   09:56 Diperbarui: 25 Juli 2017   13:30 28871
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

5. Over Credit

Over credit atau oper alih kendaraan bisa jadi salah satu alternatif yang "menguntungkan" bila kita dalam keadaan terdesak dan tak mampu lagi mencicil. Dengan catatan, angsuran yang sudah masuk sudah lumayan jumlahnya. Carilah orang yang bersedia menerima limpahan kendaraan kita dengan "harga" yang sudah disepakati.

Pilihlah oper alih resmi yang diketahui oleh pihak leasing sehingga memudahkan orang yang meneruskan angsuran saat mengambil BPKB nanti. Ingat, kita sudah di"tolongin", maka jangan merepotkan orang tersebut dengan segala hal yang berbau administratif ketika pengambilan BPKB.

Oh ya, saya ada cerita nih sebagai penutup. Suatu hari, saya menerima tamu di ruangan saya bekerja. Seorang ibu tua berbaju lusuh yang cukup ringkih dengan anak laki-lakinya usia 20-an. Mereka adalah customer "bed debt" yang motornya akan segera ditarik hari itu juga karena sudah menunggak 3 bulan.

"Saya mohon sama Ibu supaya motor anak saya jangan ditarik dulu...saya bawa uang untuk 1 angsuran, Bu. Kemarin yang nagih nggak mau nerima. Mohon Ibu terima dulu yah..."

"Tapi ibu sudah menunggak 3 bulan dan janji bayarnya selalu meleset. Ibu harus melunasi semuanya berikut denda bila motornya tidak mau ditarik. Maaf ya, Bu. Sudah peraturan perusahaan. Saya hanya menjalankan pekerjaan saja."

Ibu itu menangis lalu bercerita tentang anaknya yang cuma bisa ngojek sebagai pencari nafkah satu-satunya di keluarga mereka. Sudah tiga bulan, sejak ada trayek baru angkot ke perumahan biasa anaknya mangkal, penghasilannya berkurang drastis. (Duh, andai saja dulu sudah ada GoJek yah, pasti anak ibu itu saya referensikan untuk melamar ke sana)

Entah mengapa naluri "iba" tiba-tiba muncul di hati saya, padahal ibu ini hanyalah customer 'macet' ke sekian ratus yang pernah saya tangani di kantor dan biasanya saya bergeming saja. Selama berkutat di divisi collection, saya seolah dididik untuk "kejam" dan tidak mudah iba. Bertolak belakang sekali dengan pekerjaan awal saya sebagai customer service.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya saya berikan surat "istimewa" untuk menerima uang yang 1 bulan itu dan memberi nafas lagi. Bila meleset, maka ibu itu harus mengikhlaskan motornya dikembalikan pada perusahaan. Ibu itu hampir saja cium tangan saya untuk mengucap terima kasih karena motornya tidak jadi ditarik hari itu.

Tak lama setelah kejadian itu, saya menulis surat resign pada kantor. Saya putuskan berhenti walau saya belum dapat pekerjaan baru. Saya "keukeuh" dengan keputusan saya walau dari pihak managemen pusat mengiming-imingi jabatan sebagai kepala cabang di kota X ketika tahu saya mau resign.

COP berupa Avanza/Xenia (standar untuk kepala cabang saat itu) dan berbagai tunjangan serta fasilitas lain pun sudah menanti bila saya menerima tawaran itu. Bayangkan saja, pada usia yang belum genap 25 saya dapat kesempatan meraih karir setinggi itu. Logikanya, saya yang semasa kuliah pernah kerja cuci piring dan ngosrek WC di toilet restoran, pastilah akan tergiur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun