Termasuk Delisa yang sedang membaca bacaan shalat. Semua terjadi begitu cepat. Air bah dan gelombang tinggi dari arah pantai menyapu semua yang ada di darat. Rata tak menyisakan apa pun.
Tsunami menerjang wilayah Aceh. Menghempaskan semua yang ada di sana. Mayat bergelimpangan di sana-sini. Mereka yang masih hidup luka parah tak bisa bergerak.Â
Mereka pun segera dibawa ke rumah sakit. Termasuk Delisa yang ditolong oleh tentara Angkatan Darah asal Amerika Serikat. Bala bantuan yang diterjunkan untuk membantu korban tsunami.
Delisa selamat dari musibah tsunami. Tapi ia harus kehilangan umi dan kakak-kakaknya. Termasuk kehilangan kakinya. Meski demikian ia tetap menunjukkan keceriaan dan kenakannya.
Membuat Smith (Mark Lewis), tentara yang menolongnya ingin mengadopsi Delisa, sebelum sang ayah, Abi Usman menemukan Delisa. Begitu menemukan Delisa, keharuan melanda keduanya. Sebab kini mereka hanya hidup berdua.
Sebuah film yang cukup menguras air mata. Film Hapalan Shalat Delisa yang rilis pada 22 Desember 2011, mampu menggugah hati kita melalui tokoh Delisa.
Hikmah yang didapat dari film tersebut:
- Bahwa kehilangan memang pedih. Tapi tidak harus diratapi terus menerus.
- Kehilangan orang yang dicintai bukan akhir segalanya.Â
- Hidup harus terus berjalan meski tanpa mereka.Â
- Hidup harus dijalani dengan apa yang dimiliki.