"Bu, aku tunggu di depan, ya." Aku ambil sepotong roti yang sudah disediakan Ibu di atas meja.
Udara segar yang kuhirup pagi ini dengan tetesan embun di ujung dedauanan menambah aroma kesejukan.
"Yuk, berangkat!" ajak Ibu mengejutkanku di saat kumemejamkan mata untuk menikmati pagi.
Sesampainya di rumah Tante Tasia, Ibu mengenalkanku pada seorang perempuan berkerudung jingga. Perempuan bernama Naura itu adalah adik dari Tante Tasia. Paras cantik alami dan penampilan sederhana membuat jantungku berdebar.
"Sena." Aku mengulurkan tanganku untuk memperkenalkan diri. Naura meladeni jabatan tanganku dengan hangat,
"Naura."
"Ia calon diplomat loh," kata Tante Tasia menjelaskan sosok Naura.
"Hebat Naura, cantik, pintar, baik, sederhana pula." Sahut Ibu dengan senyum merekah.
Sejak awal Ibu dan Tante Tasia sengaja memperkenalkanku dengan Naura. Perempuan yang berkerudung jingga, sederhana tetapi elegan. Alami tetapi berisi, sosok perempuan idaman menjadi pasangan. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Suasana sejuk, embun yang masih menggantung, membuat hati ini beku setelah aku melihat Naura.
Perkenalan di rumah Tante Tasia aku lanjutkan dengan usah untuk menghubungi Naura. Aku beranikan diri meneleponnya untuk mengajak bertemu.
"Besok aku ke kampus, boleh setelah selesai kuliah," kata Naura.