Bisa dibayangkan bukan sekolah saya jauh dari kata elit. Apalagi untuk fasilitas. Jika orang lain belajar TIK begitu asyik karena tersedia lab komputer, di sekolah kami lab komputer tidak ada.
Maka, orang-orang yang SMP-nya di negeri tentu sedikitnya tahu mengoperasikan komputer. Akan tetapi, kebanyakan teman saya tidak bisa karena SMP-nya di sekolah yang sama dengan SMA sekang.
Jadi, untuk pagi hari sekolah saya diisi oleh SMA dan siang hari oleh SMP. Kebanyakan siswa SMP melanjutkan di sekolah yang sama karena SPP gratis.
Jadi, bisa mengoperasikan microsoft word atau bahkan copy paste sudah hebat bagi teman-teman saya. Mengapa demikian? Karena selama SMP dan SMA mereka tidak pernah mengenal itu.
Untuk ujian sendiri guru saya berinisiatif menyewa warnet, demi praktik mata pelajaran TIK. Tidak adanya komputer di sekolah bisa saya maklumi, hal itu karena keuangan yayasan amat lemah. Apalagi SPP tidak ada.
Begitu juga dengan lapangan olahraga, kami tidak memilikinya. Jadi, untuk olahraga harus pergi ke lapangan milik warga. Atau menyewa lapangan futsal.
Olahraga yang dimungkinkan di sekolah hanya senam. Atau sekedar tes fisik seperti push up, sit up, dan lain-lain. Untuk renang sendiri sudah pasti sewa kolam renang dengan uang sendiri.
Begitu juga dengan lab bahasa, tidak ada di sekolah kami. Ketika ujian nasional untuk pelajaran bahasa Inggris, di bagian listening kami tidak diberi headphone.Â
Materi listening diputar melalui pengeras suara di depan halaman. Ketika materi listening, maka semua kelas harus diam karena diputar hanya melalui pengeras suara saja.
Untuk angkatan sebelum saya, ujian nasional tidak dilaksanakan di sekolah sendiri karena satu dan lain hal. Akibatnya harus menumpang di sekolah negeri. Itulah satu-satunya cara melihat kondisi sekolah negeri secara langsung.
Satu hal yang saya rasakan saat bersekolah di swasta ialah minimnya guru. Tidak ada guru yang benar-benar ahli di bidangnya. Khususnya untuk pelajaran IPA.